Di balik antrean jeriken warga Brangkal dan Jipurapah, ada dorongan kuat bagi pemerintah daerah untuk tidak sekadar memadamkan kebakaran lewat tangki air, tetapi juga mengevaluasi kegagalan Pamsimas dan mencari sumber air baku yang layak bagi masyarakat pedesaan.
Sebab hingga langit menurunkan hujannya, air bersih akan terus menjadi barang mewah yang harus diperjuangkan dengan galian tanah dan tetes keringat warga.
Kondisi serba sulit ini bukan hanya milik Suko. Di kawasan utara Sungai Brantas ini, krisis air bersih merenggut kenyamanan hidup 1.140 jiwa dari 400 Kepala Keluarga (KK) yang tersebar di Dusun Brangkal (600 jiwa) dan Dusun Jipurapah (540 jiwa).
Tak hanya dapur warga, fasilitas publik dan pendidikan ikut menanggung dampaknya. Sebanyak 94 siswa di SDN Jipurapah 1 dan 53 siswa di SMPN 3 Plandaan kini harus belajar di tengah keterbatasan pasokan air bersih. Kekeringan tahun ini dirasakan jauh lebih berat dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Kepala Dusun Brangkal, Suwoto, menceritakan bahwa kemarau biasanya cukup dihadapi dengan memompa sumur bor warga. Namun kini, debit air tanah merosot drastis hingga tak sanggup lagi dipompa, terutama di wilayah RT 1, RT 2, dan RT 4.
Rakyat bukannya tanpa upaya. Sekitar satu tahun lalu, proyek Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) dibangun di wilayah tersebut sebagai solusi jangka panjang. Sayangnya, infrastruktur publik itu kini seolah menjadi monumen tak berguna.
"Sejak awal dibangun, air dari Pamsimas terasa asin dan tidak layak dikonsumsi. Jadi warga sama sekali tidak punya sumber air komunal yang bisa diandalkan begitu sumur pribadi mengering," pukas Suwoto.
Editor : Zainul Arifin
Artikel Terkait
