Satu Tahun Warsubi-Salmanuddin, Kota Santri Jombang Kelihangan Ruh Pendidikan
JOMBANG, iNewsMojokerto.id–Genap satu tahun kepemimpinan Bupati Warsubi dan Wakil Bupati Salmanuddin Yazid di Jombang, persoalan serius mulai mengarah pada esensi kebijakan yang dinilai mulai menjauh dari akar identitas daerah.
Meski pemerintah daerah (Pemda) gencar mengampanyekan narasi harmoni dan kerja nyata, kalangan akademisi menilai terdapat kegagalan mendalam dalam menjaga keberlanjutan sektor pendidikan karakter yang menjadi jantung Jombang sebagai Kota Santri.
Kritik keras datang dari dosen Universitas Darul Ulum Jombang, M. Najihul Huda. Ia menilai ambiguitas nasib Guru Madrasah Diniyah (Madin) dan muatan lokal keagamaan yang kini berada dalam ketidakpastian regulasi.
Menurutnya, stabilitas birokrasi yang dicapai dalam setahun terakhir menjadi sia-sia jika fondasi ideologis pendidikan karakter justru digemboskan oleh ketidakjelasan skema anggaran dan program.
"Sebagai akademisi, saya melihat ada upaya konsolidasi dan stabilisasi. Itu penting. Tetapi fondasi saja tidak cukup jika arah kebijakan strategis, terutama pendidikan karakter, justru menjadi tidak jelas," terang dia.
Menurut Mantan Aktivis PMII ini, kebijakan Warsubi-Salmanudin bukan hanya berdampak pada kesejahteraan. Yang lebih parah adalah bisa merusak karakter siswa yang selama ini telah terbentuk.
"Jika status Guru Madin dan muatan lokal keagamaan menjadi tidak pasti atau bergantung pada kebijakan tahunan, maka yang terdampak bukan hanya kesejahteraan guru. Yang lebih berbahaya adalah inkonsistensi pembentukan karakter siswa," lontarnya.
Editor : Zainul Arifin