Ironi Kemanusiaan di Jombang, Keluarga Miskin Kembali Tak Tersentuh Bansos
Jaring pengaman sosial, yang seharusnya menjadi benteng utama bagi warga miskin dan penyandang disabilitas, seolah tak pernah menjangkau rumah mereka. Ismiati hanya mengingat beberapa kali bantuan sporadis yang diterima.
Yakni Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebesar Rp900.000 dan tiga kali bantuan COVID-19 senilai Rp300 ribu per penerimaan. Jumlah ini tentu tidak sebanding dengan beban hidup keluarga yang salah satu anggotanya mengalami disabilitas parah.
Saat ini, Ismiati sudah tidak dapat bekerja karena harus merawat Davit sepanjang waktu. Kebutuhan sehari-hari kini ditopang oleh penghasilan salah satu anaknya yang bekerja sebagai live streamer TikTok dan penjual pakaian bayi, sebuah upaya subsisten yang rentan. Beban keluarga ini kian berlipat setelah suami sekaligus penopang hidup mereka meninggal dunia, belum genap seratus hari.
Kondisi ekonomi yang terpuruk kian diperparah dengan pengakuan Ismiati bahwa keluarga ini tidak memiliki kartu BPJS Kesehatan. Hal ini berarti akses Davit terhadap layanan kesehatan esensial terputus. "Kalau berobat ya bayar sendiri," ujarnya.
Ia mengaku telah mencoba berbagai terapi, mulai dari fisioterapi hingga totok saraf, tetapi semua upaya itu sia-sia. Putus asa melihat ketiadaan perubahan, ia terpaksa menghentikan pengobatan Davit.
Editor : Zainul Arifin