Sampah Kediri Makin Menggunung, Legislator Jatim Buka Peluang Ubah Jadi Listrik

Joko Dwi
Wakil Ketua Komisi D DPRD Jatim dari Fraksi Nasdem Khusnul Arif. (Foto: Joko Dwi)

Khusnul menyebut timbulan sampah Kota Kediri sekitar 180 ton per hari, sedangkan Kabupaten Kediri sekitar 670 ton per hari. Angka tersebut, kata dia, masih perlu disesuaikan dengan ketentuan teknis program pemerintah pusat.

“Kalau Kota dan Kabupaten Kediri digabung, tentu potensinya menjadi lebih besar. Tetapi untuk persyaratan dan kuota pastinya nanti perlu kita pastikan kembali,” katanya.

Khusnul menilai persoalan sampah tidak bisa hanya diselesaikan dengan menambah atau memperluas tempat pemrosesan akhir (TPA). Pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi akan berbanding lurus dengan peningkatan volume sampah. Sementara ketersediaan lahan memiliki keterbatasan.

Karena itu, menurutnya, pemerintah daerah bersama masyarakat perlu melakukan berbagai langkah untuk mengurangi timbulan sampah sejak dari sumbernya. “Seiring dengan pertumbuhan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi, persoalan sampah semakin kompleks. Maka harus ada antisipasi dan upaya-upaya,” tuturnya.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah memperkuat regulasi mengenai pembatasan sampah, termasuk penggunaan plastik sekali pakai. Selain regulasi, sosialisasi kepada masyarakat juga dinilai penting. Khusnul mendorong pemerintah daerah Kota dan Kabupaten Kediri agar semakin masif memberikan edukasi mengenai pengurangan dan pemilahan sampah.

Terkait rencana pengolahan sampah menjadi sumber listrik, Khusnul menjelaskan bahwa tidak seluruh jenis sampah dapat langsung dimanfaatkan sebagai bahan baku. Sampah perlu melalui proses pemilahan dan pengolahan untuk menentukan material yang dapat digunakan maupun yang harus dipisahkan.

“Untuk diolah menjadi sumber listrik tentu ada kriteria sampah tertentu. Jadi begitu sampai di tempat pengolahan ada pemilahan dan pemrosesan, mana yang bisa digunakan dan secara teknis seperti apa,” jelasnya.

Menurut dia, pemilahan idealnya tidak hanya dilakukan ketika sampah sudah berada di tempat pembuangan akhir, tetapi dimulai dari sumbernya, termasuk rumah tangga dan tempat penampungan sementara. Namun, Khusnul mengakui implementasi pengolahan sampah menjadi energi listrik di sejumlah wilayah masih dalam proses. Salah satu contoh yang telah beroperasi adalah fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik di Benowo, Surabaya.

“Kalau melihat yang sudah berjalan, salah satunya di Benowo, Surabaya. Di sana sudah ada PLTSA,” kata dia menutup.

Editor : Zainul Arifin

Sebelumnya

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network