Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Terpilih Jadi Ketua PDIP Jombang, Begini Harapan Besar Sumrambah
Advertisement . Scroll to see content

Kedaulatan Pangan dari Jombang: Strategi PDIP Hadapi Krisis Iklim Lewat Riset Pertanian

Kamis, 17 September 2026 | 14:02 WIB
  • author Aries
Kedaulatan Pangan dari Jombang: Strategi PDIP Hadapi Krisis Iklim Lewat Riset Pertanian
Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Pemerintahan dan Otonomi Daerah, Ganjar Pranowo saat melakukan panen raya di Jombang. Foto iNewsMojokerto/Aries

JOMBANG, iNewsMojokerto.id - Di tengah ancaman nyata krisis iklim global dan tantangan ketahanan pangan nasional, langkah progresif kembali dibuktikan oleh kader-kader Partaj Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Bertempat di Dusun Kedungpring, Desa Bareng, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, terobosan sektor pertanian diuji melalui panen raya padi varietas GP 65 Bogor atau yang populer dikenal sebagai MSP 65 pada Kamis (17/9/2026).

Varietas berumur genjah itu sukses mencatatkan produktivitas luar biasa, menembus angka sekitar 10 ton per hektare dalam uji coba.

Komitmen PDIP dalam memperkuat sektor hulu pangan ini dihadiri langsung oleh Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Pemerintahan dan Otonomi Daerah, Ganjar Pranowo, bersama Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PDIP, Sadarestuwati, yang juga bertindak sebagai penyelenggara acara.

Hadir pula mendampingi sejumlah kepala daerah dari PDIP, di antaranya Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi dan Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi. Kehadiran para kader partai di eksekutif dan legislatif tersebut menegaskan sinergi total PDI Perjuangan dalam mengawal politik pangan kerakyatan.

Sebagai inisiator pengembangan varietas di daerah pemilihan dan wilayah tersebut, Anggota Komisi IV DPR RI Sadarestuwati memaparkan bahwa keberhasilan GP 65 Bogor yang merupakan akronim dari Gancang Panen atau cepat panen ini tidak lepas dari ketisiplinan tahapan pengolahan lahan yang ketat.

Menurutnya, inovasi pertanian harus dimulai dari perbaikan struktur tanah secara terpadu guna menekan pertumbuhan gulma dan mengoptimalkan penyerapan unsur hara.

Sadarestuwati merinci tahapan budidaya presisi yang ia terapkan di lahan demplot Jombang. Pertama adalah pembalikan tanah atau embalik struktur tanah untuk memutus siklus patogen, kedua adalah aplikasi biodekomposisi atau penyemprotan cairan Biodekom hasil produksi mandiri untuk mempercepat pembusukan bahan organik.

Selanjutnya adalah pengomposan alami, mengubah sisa jerami dan unsur organik menjadi kompos subur. Kemudian pengendalian gulma, aplikasi herbisida terukur sebelum proses pengolahan akhir dan pemberian rotary atau penggunaan mesin rotary untuk menghaluskan media tanam.

"Setelah panen, saya brojol dulu, kemudian disemprot dengan Biodekom yang kita hasilkan sendiri. Setelah itu sudah menjadi kompos, kemudian disemprot dengan herbisida, baru kemudian di-rotary," jelas Sadarestuwati.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan fenomena unik di lapangan. Meskipun ditanam paling akhir dibandingkan varietas konvensional lain seperti Inpari 32, Inpari 49, dan Inpari 42, padi GP 65 Bogor justru menunjukkan kecepatan pertumbuhan yang fantastis dan masuk masa panen lebih dulu. Varietas ini juga terbukti tangguh dengan sistem pengairan hemat berbasis pipanisasi, menjadikannya solusi adaptif budidaya musim kemarau.

"Ini paling akhir, dan alhamdulillah ternyata panennya paling awal. Ini cocok untuk ketika menanam pada musim kemarau. Bukan berarti pada musim penghujan enggak bagus, lebih bagus lagi. Akan tetapi di kemarau dia tahan dan alhamdulillah hasilnya sangat bagus," katanya.

Terkait ketersediaan bibit bagi masyarakat luas, Sadarestuwati menegaskan bahwa benih yang diuji saat ini masih berstatus Benih Dasar (BD).

Pihaknya berkomitmen untuk menjalin kerja sama strategis dengan para petani setelah proses perbanyakan benih menuju benih pokok dan benih sebar rampung sempurna.

"Nanti bila para petani menginginkan untuk mencoba, nanti kita ada kerja sama dengan para petani. Karena benih ini masih benih BD yang harus kami kembangkan untuk menjadi benih lagi, benih pokok, kemudian benih sebar yang nanti bisa dinikmati oleh seluruh petani di Indonesia," tegasnya.

Sementara itu, Ketua DPP PDI Perjuangan Ganjar Pranowo menyoroti pentingnya objektivitas ilmiah dalam menilai hasil panen raya ini. Di hadapan para kader dan masyarakat tani, Ganjar menilai pencapaian produktivitas 10 ton per hektare pada tahap uji coba demplot merupakan sebuah capaian yang sangat mengejutkan sekaligus membanggakan.

"Ini kan masih demplot. Variannya cukup banyak. Tapi kalau kemudian tadi kira-kira average bisa 10 ton, menurut saya itu sudah surprise, luar biasa," ungkap Ganjar Pranowo.

Kendati demikian, politisi senior PDI Perjuangan ini mengingatkan agar hasil tersebut tidak langsung disimpulkan sebagai standar mutlak tanpa pengujian lanjutan.

Ganjar menekankan perlunya uji konsistensi melalui beberapa siklus musim tanam guna memastikan ketahanan dan stabilitas varietas terhadap dinamika cuaca.

"Ini akan kita teruskan, apakah kira-kira umpama 3-4 kali panen bisa konsisten. Kalau itu konsisten, fix, maka kita sebarkan," kata Ganjar.

Sebagai bentuk pengawalan politis dan teknis yang terukur, Ganjar menginstruksikan agar seluruh rangkaian budidaya dicatat secara rinci ke dalam buku catatan harian atau logbook. Dokumentasi ketat mulai dari kualitas benih, kondisi tanah, takaran pemupukan, hingga metode perawatan harus menjadi standar baku agar pola keberhasilannya dapat direplikasi oleh petani di berbagai wilayah Indonesia.

"Benihnya mesti konsisten seperti itu, kondisi tanahnya, pemupukannya, prosesnya, perawatannya. Kalau itu sama, maka rakyat tinggal meniru saja," pungkas Ganjar.

Editor: Arif Ardliyanto

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut