Kiai Pesantren di Jombang Prihatin Aksi Saling Serang Kandidat Ketua Umum PBNU Jelang Muktamar NU
Ia menekankan bahwa perbedaan pendapat adalah hal lumrah dalam berorganisasi. Namun, cara penyampaian dan etika berpolitik harus tetap dijaga agar Muktamar mampu memberikan keteladanan bagi jemaah di tingkat akar rumput.
"Seharusnya Muktamar ini harus mendidik. Muktamar ini harus membangun satu suasana yang betul-betul menggambarkan akhlak Nahdlatul Ulama. Nah, kita melihat sudah keluar dari akhlak ini," tegasnya.
Di samping menyayangkan polemik pencalonan, Kiai Junaidi meminta warga Nahdliyin untuk objektif dan tidak menilai kapasitas calon ketua umum hanya dari satu sudut pandang sempit, seperti penguasaan ilmu agama semata. Memasuki abad kedua berdirinya NU, tantangan organisasi dinilai kian kompleks sehingga membutuhkan figur manajerial yang tangguh dan memiliki jaringan luas.
Ia mencontohkan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), sebagai salah satu sosok kandidat yang dinilai memiliki portofolio kepemimpinan secara menyeluruh.
"Karena seorang pemimpin di Nahdlatul Ulama itu sebagai sebuah organisasi besar, maka tidak hanya dibutuhkan kapasitas keilmuan di bidang agama, tetapi juga harus punya kemampuan secara utuh di bidang manajerial, kemampuan jaringan, kemampuan membangun kekuatan NU secara ekonomi, pendidikan, maupun pergerakannya," jelasnya.
Kiai Junaidi menilai kombinasi latar belakang Gus Kikin di dunia bisnis dan media menjadi nilai tambah yang sangat dibutuhkan organisasi untuk bergerak lebih responsif terhadap perubahan global.
"Saya melihat Gus Kikin punya kemampuan yang lebih utuh. Beliau juga seorang pengusaha, punya kekuatan di bidang jaringan untuk bagaimana membangun. Di media juga beliau pernah punya media televisi," ungkapnya.
Editor: Zainul Arifin