Menuju Muktamar ke 35 NU, Kiai Jombang Ungkap Pemimpin PBNU Dan Bahaya Politik Uang
JOMBANG, iNewsMojokerto.id - Kiai Jombang, KH Mustain Hasan mengungkap bahaya politik uang hingga sosok yang layak dipilih sebagai pemimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar ke 35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur akhir Agustus nanti.
Sosok yang dinilai kiai Mustain Hasan layak memimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia itu, adalah yang berpegang pada nilai-nilai yang diwariskan para muassis, seperti KH Hasyim Asy'ari, KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Bisri Syansuri dan pendiri NU lainnya.
Yakni memiliki dedikasi tinggi, berkhidmat sepenuhnya kepada NU, dan mampu membawa organisasi berkembang sesuai dengan cita-cita para pendiri organisasi.
Kiai Mustain Hasan menceritakan sejarah singkat Muktamar NU pertama yang akhirnya saudagar Hasan Gipo terpilih sebagai ketua umum PBNU.
Menurut Kiai Hasan, saat itu Hasan Dipo tidak bersedia menduduki jabatan tersebut karena khawatir tidak dapat mengemban amanah dengan baik. Hal serupa juga pada ketua umum PBNU ketiga KH Mahfudz Siddiq.
"Sekarang itu walaupun tidak persis seperti itu (Para Pendiri NU, tetapi setidaknya menjiwai seperti itu. Tidak rebutan, malah kita khawatirkan money politik seperti pikades atau pilpres, itu bukan adabnya orang NU," katanya ditemui di rumahnya.
Sementara untuk jabatan Rais Aam Syuriah, Kiai Hasan berharap sebaiknya diemban oleh ulama yang memiliki kapasitas keilmuan tinggi, menjaga independensi organisasi, serta mampu menjadi teladan yang dihormati tidak hanya oleh warga Nahdliyin, tetapi juga masyarakat luas.
"Syuriah tentunya dipilih yang alim, yang tidak terlampau mendekati dengan pengambil keputusan di pemerintahan maupun politik," ujar kiai yang mengasuh Pesantren Darul Ulum Kepuhdoko Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang, ini.
Editor: Zainul Arifin