Bau Kandang Bebek Diprotes Warga, Kepala SDN Losari Jombang Janji Berbenah
JOMBANG, iNewsMojokerto.id - Kepala SDN Losari Jombang, Nasir berjanji segera mencari solusi terbaik agar kenyamanan warga kembali pulih tanpa harus mengorbankan proses belajar-mengajar para siswa.
Dia menegaskan bahwa sekolah berkomitmen untuk mengadopsi teknik peternakan yang lebih modern guna menekan bau kotoran bebek yang diprotes oleh warga sekitar sekolah.
"Kami siap menyelesaikan masalah ini. Keluhan warga kami jadikan tantangan untuk berbenah. Kami akan mencari cara dan menerapkan teknik beternak modern yang bisa mengurangi bau secara signifikan," katanya, Sabtu (18/7/2026).
Diakui Nasir, bau peternakan tidak bisa hilang total, tapi pihaknya berkomitmen untuk meminimalkannya agar warga sekitar kembali nyaman.
Nasir mengatakan bahwa keberadaan puluhan bebek itu murni program edukasi lingkungan hidup dan kewirausahaan. Setelah berhasil meraih predikat Sekolah Adiwiyata Nasional tahun lalu, saat ini sekolah sedang berjuang menuju tingkat Mandiri dengan fokus pada Keanekaragaman Hayati.
"Kami mengelola bebek ini sebagai media pembelajaran siswa kelas IV, V, dan VI. Mereka belajar cara memberi makan, mengambil telur, mencuci, hingga mengolahnya menjadi telur asin. Hasilnya pun dinikmati kembali oleh anak-anak," kata dia.
Dia menegaskan bahwa peternakan mini itu tidak ditujukan untuk mencari keuntungan finansial, apalagi menjadi penyuplai program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sedang berjalan. "Ini murni untuk pembelajaran praktik anak-anak, bukan untuk stok MBG atau tujuan komersial," tegasnya.
Dalam operasional harian, para siswa bergantian melakukan piket dengan didampingi guru serta penjaga sekolah. Pihak sekolah juga memanfaatkan sisa makanan bersih dari program MBG sebagai pakan tambahan di samping pakan konsentrat agar tidak ada makanan yang terbuang sia-sia.
Sebelumnya, kandang berisi sekitar 50 ekor bebek yang dikelola SDN Losari Jombang dikeluhkan oleh warga sekitar karena memicu aroma tidak sedap. Bau menyengat dari kotoran bebek dinilai sangat mengganggu kenyamanan lingkungan, terutama sore hingga malam hari. Kondisi kurang nyaman itu dilaporkan telah berlangsung enam bulan terakhir.
Salah satu warga yang terdampak langsung adalah Anita Sari Anggraini. Rumah wanita berusia 31 tahun ini terletak tepat di belakang area sekolah, membuatnya terpaksa menghirup bau menyengat setiap hari, terutama saat cuaca sedang lembap.
"Baunya itu bau kotoran bebek yang sangat menyengat. Apalagi kalau cuaca lembap, pagi, menjelang sore, bahkan malam hari lebih terasa. Saat maghrib sampai malam itu paling menyengat," ujar Anita.
Situasi ini kian mengkhawatirkan bagi warga karena lingkungan pemukiman tersebut banyak dihuni oleh anak-anak dan bayi. Demi kesehatan keluarga, warga terpaksa menutup rapat seluruh akses udara pada malam hari.
Merasa terganggu, Anita akhirnya melaporkan masalah itu ke pemerintah desa setempat dengan harapan kandang bebek segera dipindahkan ke lokasi lain yang jauh dari rumah warga.
"Kalau bisa ya dipindah. Menurut saya, peternakan bebek seharusnya tidak berada dekat permukiman warga. Mau diberi saluran irigasi atau penanganan seperti apa pun, baunya akan tetap ada," katanya
Editor : Zainul Arifin