Selain penguatan layanan kesehatan, edukasi dan peningkatan pengetahuan masyarakat menjadi faktor penting dalam pengendalian penyakit. Pemahaman yang baik mengenai pola hidup sehat, pencegahan penularan, serta kepatuhan terhadap pengobatan akan memperkuat upaya kesehatan di tingkat masyarakat.
“Yang dibutuhkan adalah edukasi, pengetahuan. Setelah itu masyarakat makin taat. Jadi hidup itu dengan pola hidup sehat itu sudah bisa mengurangi konsumsi obat,” katanya.
Menurut Benjamin, Kota Mojokerto memiliki posisi strategis dalam penanganan TB karena selama ini turut memberikan layanan pengobatan bagi pasien yang berasal dari luar wilayah kota. Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan kapasitas layanan kesehatan Kota Mojokerto dalam menangani kasus TB.
Ia pun melihat peluang Kota Mojokerto untuk menjadi salah satu daerah percontohan nasional dalam upaya pemberantasan TB. Dengan luas wilayah yang relatif kecil serta dukungan fasilitas dan tenaga kesehatan yang memadai, proses penemuan kasus secara aktif dinilai dapat dilakukan secara lebih terintegrasi.
“Kalau bisa kita melakukan pemberantasan TB sebagai percontohan nasional, Kota Mojokerto, Kota Bogor. Saya sudah lihat kota-kota yang bisa karena SDM-nya cukup dan selama ini jadi tumpahan mengobati orang wilayah kota lain,” ujarnya.
Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari menyampaikan bahwa Pemkot Mojokerto memiliki komitmen kuat dalam mendukung penguatan sektor kesehatan, termasuk dalam upaya eliminasi TB. Komitmen itu salah satunya diwujudkan melalui dukungan anggaran kesehatan yang dialokasikan lebih dari 20 persen.
“Anggaran kesehatan kita lebih dari 20 persen, lebih dari yang ditetapkan dalam mandatory spending. Kemudian kita juga memiliki para kader yang siap menjadi garda terdepan untuk berkolaborasi dalam eliminasi TB,” ujarnya.
Adanya dukungan enam rumah sakit, enam puskesmas, serta 10 puskesmas pembantu, Kota Mojokerto memiliki potensi menjadi salah satu daerah percontohan dalam penanganan dan pemberantasan TB di Indonesia.
Editor : Zainul Arifin
Artikel Terkait
