Menanggulangi Karhutla: Sinergi Sains Ekologi dan Fikih Lingkungan

Zainul Arifin
I'anatul Mufarikhah, Mahasiswa Doktor PAI UiNSA. (Foto: Dok)

Kolaborasi Lintas Disiplin (Interdisipliner dan Transdisipliner)

Kompleksitas krisis lingkungan tidak dapat diselesaikan oleh satu disiplin ilmu saja. Pendekatan ini mendorong dialog interdisipliner antara akademisi keagamaan, pakar sains atmosfer, dan ahli sosiologi. Lebih jauh lagi, pendekatan transdisipliner diterapkan dengan melibatkan pihak non-akademis, seperti komunitas adat, petani lokal, dan praktisi lingkungan, untuk merumuskan strategi mitigasi kebakaran secara bersama-sama.

EksekusiRiset Terapan Berbasis Proyek Kasus (Case-Based Project)

Riset tidak berhenti pada jurnal akademis, melainkan diarahkan untuk menghasilkan solusi praktis bagi masyarakat. Melalui proyek berbasis kasus, kolaborasi peneliti menghasilkan luaran nyata, seperti panduan teknis pembasahan kembali (rewetting) gambut, pemetaan zona rawan berbasis sains, serta pembentukan norma sosial "Desa Tangguh Karhutla" berbasis nilai keagamaan.

IntegrasiSiklus Tridharma Perguruan Tinggi
Mengintegrasikan pilar pengajaran, penelitian terapan, dan pengabdian masyarakat secara berkelanjutan:

Tahap Pembelajaran: Kasus nyata bencana karhutla diangkat ke dalam diskusi kelas lintas fakultas.

Tahap Penelitian: Dosen dan mahasiswa merancang instrumen intervensi lingkungan berbasis data empiris dan etika Islam.

Tahap Pengabdian: Tim turun langsung memberikan pendampingan dan edukasi di daerah rawan karhutla, yang hasilnya digunakan kembali untuk memperbarui modul pengajaran.

Pembelajaran Aktif Berbasis Pengalaman dan Inkuiri

Proses edukasi dan mitigasi mengadopsi metode experiential learning (pembelajaran berbasis pengalaman dan observasi tindakan nyata) serta inquiry-based learning (pemecahan masalah berbasis pertanyaan kritis). Mahasiswa dan masyarakat dilatih bereksplorasi secara kritis dalam memecahkan masalah ekologi di lingkungannya.

Melalui integrasi lima langkah praktis ini, penanggulangan karhutla tidak lagi sekadar pemadaman api secara fisik, tetapi menjadi gerakan kebudayaan dan keilmuan yang holistik. Pada akhirnya, paradigma ini bertujuan melahirkan pribadi berkarakter Ūlū al-Albāb—pribadi yang cerdas secara rasional dalam memanfaatkan teknologi mitigasi, matang secara spiritual, serta mampu menyatukan iman, ilmu, dan amal demi menjaga kelestarian bumi.

Editor : Zainul Arifin

Sebelumnya

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network