JAKARTA, iNewsMojokerto.id — Penanganan mata kering di Indonesia masih menjadi tantangan, seiring tingginya angka kasus yang kerap tidak terdiagnosis sejak dini. Kondisi ini mendorong perlunya pendekatan terpadu, mulai dari edukasi masyarakat hingga standardisasi diagnosis dan terapi, agar gejala yang kerap dianggap sepele tersebut dapat ditangani secara tepat dan tidak berdampak pada kualitas penglihatan.
Di Indonesia, penyakit mata kering diperkirakan memengaruhi sekitar 27,5% populasi atau lebih dari 76 juta orang. Namun, kondisi ini masih sering kurang terdiagnosis dan penanganannya belum konsisten.
Salah satu rumah sakit mata yang menjawab tantangan itu dan diakui oleh internasional adalah JEC Eye Hospitals and Clinics (JEC) yang menghadirkan pendekatan terpadu yang menggabungkan edukasi publik dengan standardisasi protokol klinis di seluruh jaringan layanan. Program ini dilengkapi dengan microsite edukasi serta alat penilaian mandiri berbasis gim menggunakan Dry Eye Questionnaire-5, yang memungkinkan skrining gejala secara lebih terstruktur.
Direktur Pengembangan & Pendidikan, JEC Group Prof. Dr. Tjahjono D. Gondhowiardjo, SpM(K), PhD mengatakan, pihaknya terus berupaya untuk melakukan inovasi guna mendapatkan diagnosis yang tepat hingga pelayanan yang optimal.
“Melalui inovasi seperti program penanganan mata kering yang terintegrasi serta penguatan sistem layanan bedah yang efisien, kami ingin memastikan bahwa setiap pasien mendapatkan diagnosis yang akurat, terapi yang tepat, dan pengalaman layanan yang optimal. Ke depan, JEC Eye Hospitals and Clinics berkomitmen untuk terus menjadi rujukan utama dalam layanan kesehatan mata, sekaligus berkontribusi dalam meningkatkan kualitas penglihatan masyarakat Indonesia secara berkelanjutan,” jelasnya dalam keterangan tertulis, Jumat (27/3/2026).
Editor : Trisna Eka Adhitya
Artikel Terkait
