“Pancasila ini mengikat berbagai latar belakang budaya, adat, suku, juga agama yang berbeda-beda di Indonesia ini,” tegas putri sulung Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu.
Ia menilai momentum berdekatan antara Imlek dan Ramadan menjadi pengingat bahwa harmoni bukan sesuatu yang lahir secara otomatis, melainkan harus dijaga secara sadar.
“Bagaimana keragaman budaya di Indonesia ini adalah sebuah harmoni. Kebhinekaan harus dijaga sehingga tidak ada lagi saudara kita yang terdiskriminasi,” ungkapnya.
Sementara itu, Ye Su dalam paparannya menekankan pentingnya stabilitas sosial dan pembangunan ekonomi sebagai fondasi kemajuan suatu bangsa. Ia juga menyoroti perlunya tata kelola yang transparan dan penegakan hukum yang konsisten sebagai bagian dari membangun kepercayaan publik.
Selain itu, Dr. Ye Su juga menyinggung tentang bagaimana pemerintah Tiongkok melakukan penanganan terhadap tindak korupsi, melalui suatu Tindakan yang tegas dan nyata, melalui penegakan hukum yang secara statistik, pada tahun 2025, telah menyasar pada 115 pegawai tingkat menteri ke atas dan 5.000 pegawai tingkat kabupaten, 9.000 kasus korupsi kecil yang terjadi di sekitar Masyarakat.
Editor : Trisna Eka Adhitya
Artikel Terkait
