JOMBANG, iNewsMojokerto.id - Banjir di Dusun Ketapang Rejo, Desa Ketapang Kuning, Kecamatan Ngusikan, Kabupaten Jombang masih belum surut. Hingga hari keempat ini, 17 hektare sawah ditanami padi terendam, membuat petani berduka karena gagal panen dan merugi ratusan juta rupiah.
Musibah itu justru menarik perhatian warga. Ibu-ibu, bapak-bapak, hingga anak-anak berbondong-bondong datang ke lokasi. Bukan untuk berempati atas bencana itu, mereka malah sibuk merekam video, berfoto, bahkan hingga berswafoto dengan latar belakang sawah terendam banjir menyerupai danau.
Ada ratusan warga yang datang ke lokasi tersebut. Praktis fenomena itu membuat lokasi banjir berubah seperti “wisata dadakan” dan viral di media sosial.
Banjir di Ketapang Kuning Jombang Jadi Wisata Dadakan, Warga Ramai Berfoto saat Petani Berduka. Foto: Mojokerto.iNews.id/Zainul Arifin
Salah satu warga lokal, Bianca Nisha Aurelia (15), mengaku mendatangi lokasi karena penasaran setelah melihat ramainya pengunjung.
“Cuma lihat banjir saja sih, tapi seru. Airnya kayak danau ada gelombang-gelombangnya, terus bisa nikmati sunset. Kemarin sunset-nya bagus banget,” ujar Bianca sambil tersenyum, Rabu (14/1/2026).
“Syahdu, anginnya sepoi-sepoi. Gratis juga, banyak jajan-jajan. Yang paling saya suka ya suasananya,” sambungnya.
Ia bahkan sempat berfantasi ingin membuat perahu dan menyewakannya jika wisata dadakan itu terus ramai. "Saya saja mau buat perahu. Nanti saya sewakan 10 menit Rp150 ribu saja, seru banget itu kayaknya," ucapnya sambil berfantasi.
Senada disampaikan Mohammad Ilham (25), warga lokasi yang datang setelah melihat video lokasi tersebut viral di media sosial. “Ini wisata dadakan. Kejadiannya mungkin setahun cuma satu atau dua kali. Videonya sempat viral, yang merekam suasana dari atas menggunakan drone, akhirnya saya penasaran dan tertarik untuk datang ke sini,” kata dia.
Menurut Ilham, daya tarik utama lokasi tersebut adalah kombinasi air banjir yang bergelombang dan pemandangan senja. “Kalau sore hari bukan cuma lihat air, tapi juga senjanya bagus. Gratis juga, bisa sambil ngopi senja,” imbuhnya.
Sebelumnya satu warga di desa setempat, Ahmad mengatakan bahwa peristiwa itu merupakan banjir tahunan. Namun, kondisi tahun ini disebutnya lebih parah dibanding sebelumnya.
“Ini banjir tahunan, tapi kali ini sudah yang kedua. Yang pertama bulan November 2025, tapi tidak separah sekarang,” ujar Ahmad kepada wartawan, Selasa (13/1/2026).
Warga berharap pihak berwenang bisa memberikan solusi supaya warga dan petani tidak terus mengalami kerugian saat banjir melanda.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jombang, Wiku Birawa Felipe Diaz sebelumnya mengungkapkan banjir melanda wilayah utara Kecamatan Ngusikan termasuk Desa Ketapang Kuning disebabkan pergeseran aliran air dari beberapa wilayah lain.
“Wilayah Ketapang Kuning ini merupakan daerah akhir aliran air dari Marmoyo, Ploso, Kudu, dan sekitarnya. Jadi air itu bergeser dan berakhir di sana. Apalagi Ketapang Kuning berbatasan langsung dengan Mojokerto dan ada sistem pengaturan air di wilayah tersebut,” ungkap Wiku.
Editor : Zainul Arifin
Artikel Terkait
