Menanggulangi Karhutla: Sinergi Sains Ekologi dan Fikih Lingkungan
Opini : I'anatul Mufarikhah - Mahasiswa Doktor PAI UiNSA
JOMBANG, iNewsMojokerto.id - Bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) serta ancaman krisis kabut asap yang berulang setiap musim kemarau menjadi bukti nyata belum optimalnya mitigasi lingkungan di tanah air.
Upaya penanggulangan selama ini cenderung terjebak pada tindakan fisik parsial dan penegakan hukum kaku. Masalah dasarnya berakar pada dikotomi ilmu—pemisahan kaku antara analisis teknis sains (rasio) dengan panduan moral keagamaan (wahyu) yang melahirkan cara pandang terkotak-kotak dalam menyelesaikan krisis ekologis.
Untuk mengatasi krisis ini secara holistik, paradigma Integrated Twin Towers (ITT) UINSA menawarkan kerangka keilmuan yang menempatkan ilmu agama (naqliyah) dan sains (aqliyah) sebagai dua menara kembar yang berdiri sejajar dan saling menopang di atas paradigma tauhid.
Dalam konteks karhutla, penanganan krisis ini mengintegrasikan tiga klasifikasi keilmuan secara harmonis: Ilmu Afaqiyah (sains ekologi, meteorologi, dan geofisika), Ilmu Qur'aniyah (fikih lingkungan atau fiqh al-bi'ah), dan Ilmu Anfusiyah (sosiologi serta ekonomi masyarakat kawasan hutan).
Sinergi keilmuan ini dioperasionalkan melalui lima langkah praktis dan mendalam di lapangan:
Penerapan Metodologi Gerak Ganda (Double Movement)
Pendekatan hermeneutik ini bekerja melalui dua jalur berlawanan yang membentuk siklus reflektif:
Gerak Mundur (Backward Movement): Peneliti dan pembuat kebijakan memulai dari pemetaan fakta empiris karhutla dan pola perilaku pembakaran lahan di lapangan, lalu menelusurinya kembali ke sumber teoritis dan etika agama guna menemukan akar moral larangan pengerusakan alam (fasād fī al-arḍ).
Gerak Maju (Forward Movement): Prinsip normatif fikih lingkungan dan maqāṣid al-syarī‘ah dijadikan titik awal untuk kemudian diuji dan diterapkan langsung pada aksi praktis di lapangan.
Siklus Reflektif: Teori etika lingkungan diuji efektivitasnya di lapangan, sementara kendala riil masyarakat lokal menjadi bahan evaluasi untuk memperbarui pemahaman teori.
Kolaborasi Lintas Disiplin (Interdisipliner dan Transdisipliner)
Kompleksitas krisis lingkungan tidak dapat diselesaikan oleh satu disiplin ilmu saja. Pendekatan ini mendorong dialog interdisipliner antara akademisi keagamaan, pakar sains atmosfer, dan ahli sosiologi. Lebih jauh lagi, pendekatan transdisipliner diterapkan dengan melibatkan pihak non-akademis, seperti komunitas adat, petani lokal, dan praktisi lingkungan, untuk merumuskan strategi mitigasi kebakaran secara bersama-sama.
EksekusiRiset Terapan Berbasis Proyek Kasus (Case-Based Project)
Riset tidak berhenti pada jurnal akademis, melainkan diarahkan untuk menghasilkan solusi praktis bagi masyarakat. Melalui proyek berbasis kasus, kolaborasi peneliti menghasilkan luaran nyata, seperti panduan teknis pembasahan kembali (rewetting) gambut, pemetaan zona rawan berbasis sains, serta pembentukan norma sosial "Desa Tangguh Karhutla" berbasis nilai keagamaan.
IntegrasiSiklus Tridharma Perguruan Tinggi
Mengintegrasikan pilar pengajaran, penelitian terapan, dan pengabdian masyarakat secara berkelanjutan:
Tahap Pembelajaran: Kasus nyata bencana karhutla diangkat ke dalam diskusi kelas lintas fakultas.
Tahap Penelitian: Dosen dan mahasiswa merancang instrumen intervensi lingkungan berbasis data empiris dan etika Islam.
Tahap Pengabdian: Tim turun langsung memberikan pendampingan dan edukasi di daerah rawan karhutla, yang hasilnya digunakan kembali untuk memperbarui modul pengajaran.
Pembelajaran Aktif Berbasis Pengalaman dan Inkuiri
Proses edukasi dan mitigasi mengadopsi metode experiential learning (pembelajaran berbasis pengalaman dan observasi tindakan nyata) serta inquiry-based learning (pemecahan masalah berbasis pertanyaan kritis). Mahasiswa dan masyarakat dilatih bereksplorasi secara kritis dalam memecahkan masalah ekologi di lingkungannya.
Melalui integrasi lima langkah praktis ini, penanggulangan karhutla tidak lagi sekadar pemadaman api secara fisik, tetapi menjadi gerakan kebudayaan dan keilmuan yang holistik. Pada akhirnya, paradigma ini bertujuan melahirkan pribadi berkarakter Ūlū al-Albāb—pribadi yang cerdas secara rasional dalam memanfaatkan teknologi mitigasi, matang secara spiritual, serta mampu menyatukan iman, ilmu, dan amal demi menjaga kelestarian bumi.
Editor: Arif Ardliyanto