Bedah Film Ibadah dan Cinta Bareng Fatayat NU di Ponpes Denanyar Jombang, Begini Ceritanya
Selain kisah percintaan, Jastis menyebut film yang dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia pada 24 September 2026 itu juga sengaja dikemas sebagai tontonan keluarga. Ia berharap penonton tidak hanya mendapatkan hiburan, tetapi juga bisa ikut merasakan emosi dari persoalan yang dialami para tokohnya.
“Ini film keluarga yang sangat menggugah jiwa, sangat emosional. Film keluarga yang sangat layak ditonton bersama keluarga-keluarga Indonesia,” katanya.
Bahkan, Jastis menyebut ada banyak adegan yang mampu menguras emosi penonton. “Banyak bawa tisu, karena memang film ini sangat menguras emosi,” ujarnya.
Meski demikian, Jastis memastikan film tersebut tidak melulu menghadirkan suasana haru. Unsur komedi dan sisi romantis juga tetap diberikan untuk membuat cerita lebih ringan dan dekat dengan penonton.
Bedah Film ‘Ibadah dan Cinta’ bareng Fatayat NU itu dilakukan karena memiliki hubungan khusus. Sejak proses pembuatannya, organisasi badan otonom NU tersebut memberikan dukungan terhadap film ini. Almarhumah Margaret Aliyatul Maimunah, yang sebelumnya menjabat Ketua Umum PP Fatayat NU, menjadi bagian dari pemeran dalam film tersebut.
Pj Ketua Umum PP Fatayat NU Dewi Winarti mengatakan, karakter perempuan dalam film itu menjadi salah satu pesan penting yang ingin disampaikan kepada masyarakat.
Sosok Santun digambarkan sebagai perempuan dari keluarga pesantren, seorang guru ngaji yang taat dan memiliki prinsip kuat. Namun, ia kemudian menghadapi tantangan ketika jatuh cinta kepada laki-laki dengan latar belakang kultur berbeda.
Menurut Dewi, karakter tersebut menggambarkan pentingnya perempuan mempertahankan nilai dan prinsip yang diyakininya benar. “Hal yang prinsip itu tetap harus kita perjuangkan jika itu benar, ketika itu berhadapan dan bertentangan dengan sebuah kultur atau budaya,” katanya.
Ia juga menilai keterlibatan almarhumah Margaret dalam film tersebut meninggalkan pesan tersendiri bagi keluarga besar Fatayat NU. Dewi mengaitkan pesan film tentang cinta, kehilangan, dan keikhlasan dengan perjalanan organisasi Fatayat NU. “Cinta itu tumbuh karena dirawat. Fatayat NU ini akan kita rawat dengan cinta,” ujarnya.
Editor : Zainul Arifin