get app
inews
Aa Text
Read Next : LPj PBNU 2021–2026 Diterima Muktamar, Gus Yahya Sampaikan Minta Maaf dan Terima Kasih

Bedah Film Ibadah dan Cinta Bareng Fatayat NU di Ponpes Denanyar Jombang, Begini Ceritanya

Jum'at, 28 Agustus 2026 | 21:46 WIB
header img
Bedah film novel Ibadah dan Cinta Bareng Fatayat NU di Asrama Al Bishri Pondok Pesantren Denanyar Jombang. (Foto: Zainul Arifin)

JOMBANG, iNewsMojokerto.id - Bedah film dan novel Ibadah dan Cinta digelar di Asrama Al Bishri Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif, Denanyar, Jombang, Jumat (28/8/2026) sore. Bedah film bergenre drama, romance, dan bernuansa religi itu bareng Fatayat NU (Nahdlatul Ulama).

Ada puluhan ibu-ibu Fatayat NU hadir dalam acara itu. Pj Ketua Umum PP Fatayat NU Dewi Winarti bersama sang sutradara Jastis Arimba serta para pemain juga hadir langsung. Mereka bergantian menceritakan film yang diproduksi Sinemata Buana Kreasindo tersebut.

Jastis Arimba mengatakan, ‘Ibadah dan Cinta’ tidak sekadar menyajikan kisah percintaan, tetapi juga mengangkat persoalan keluarga, kehilangan, hingga bagaimana seseorang belajar mengikhlaskan.

“Ibadah dan Cinta ini adalah film drama keluarga bernilai religi yang bercerita memaknai arti cinta, kehilangan, dan mengikhlaskan,” ujar Jastis ditemui usai acara.


Pj Ketua umum Fatayat NU bersama sutradara dan para pemain ibadah dan cinta di Denanyar Jombang. (Foto: Mojokerto.iNews.id/Zainul Arifin)

Dalam cerita, Achmad Megantara berperan sebagai Rico seorang anak muda asal Australia awalnya bersikap agnostik dan mempertanyakan nilai-nilai ketuhanan maupun agama. Perjalanan Rico kemudian mempertemukanya dengan Santun, seorang ustazah muda yang cerdas, anggun, memiliki prinsip kuat, serta merupakan putri dari seorang kiai pemilik pesantren.

Keduanya kemudian dipertemukan dalam sebuah hubungan yang menghadirkan berbagai persoalan. Perbedaan latar belakang dan kultur menjadi salah satu tantangan yang harus mereka hadapi.

Menurut Jastis, kisah tersebut sekaligus menjadi gambaran pertemuan dua dunia yang berbeda, yakni kehidupan pesantren dengan kultur masyarakat Australia yang modern. Menariknya, proses produksi film dilakukan di Indonesia dan Australia.

“Bagaimana dua keragaman budaya, dua karakter potret kehidupan yang berbeda, bisa disatukan oleh cinta itu sendiri,” kata Rico menjelaskan.

Editor : Zainul Arifin

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut