Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Ini Dia 9 Kiai Tim AHWA Penentu Rais Aam dan Ketua Umum PBNU di Muktamar ke-35 NU Jombang
Advertisement . Scroll to see content

Muktamar Ke-35 NU di Tambakberas Jombang, Teguhkan Komitmen Keumatan dan Kebangsaan

Kamis, 27 Agustus 2026 | 21:14 WIB
  • author Zainul Arifin
Muktamar Ke-35 NU di Tambakberas Jombang, Teguhkan Komitmen Keumatan dan Kebangsaan
Pembukaan Muktamar ke 35 NU di Tambakberas Jombang. (Foto: Zainul Arifin)

Sementara itu, KH Miftachul Akhyar menyoroti persoalan kemiskinan dan kebodohan sebagai faktor yang dapat melemahkan kekuatan umat dalam menjalankan amar ma’ruf nahi munkar dan menegakkan ajaran Islam.

“Sesungguhnya penyebab utama yang menghambat kekuatan umat untuk menjalankan amar ma’ruf nahi munkar serta menegakkan ajaran Islam adalah kemiskinan dan kelemahan di berbagai bidang, khususnya dalam bidang ekonomi,” ujar Kiai Miftach dalam Khutbah Iftitah.

Kiai Miftach juga mengingatkan bahaya merebaknya kebodohan di tengah masyarakat karena dapat membuat seseorang kehilangan kemampuan membedakan antara perkara yang bernilai dan yang merusak.

Dirinya menekankan pentingnya kepemimpinan agama diserahkan kepada pihak yang kompeten. Ia memperingatkan agar urusan keagamaan tidak diberikan kepada orang yang tidak memiliki kapasitas keilmuan karena dapat menyesatkan masyarakat dan mengikis marwah agama.

Selanjutnya, Presiden Prabowo yang memberikan sambutan sekaligus membuka Muktamar Ke-35 NU menegaskan bahwa NU merupakan aset besar bangsa Indonesia. Prabowo mengapresiasi sejarah panjang keterlibatan ulama, kiai, dan pesantren dalam perjuangan bangsa Indonesia.

Ia mencontohkan lagu Syubbanul Wathon karya KH Abdul Wahab Hasbullah yang diciptakan belasan tahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Prabowo juga menegaskan peran besar ulama dan pesantren dalam Pertempuran Surabaya pada Oktober-November 1945.

“Karena kemerdekaan bangsa Indonesia memang diproklamasikan di Jakarta, tapi kemerdekaan bangsa Indonesia diuji di Surabaya. Dan dalam pertempuran Surabaya Oktober-November tahun 1945, peran dari ulama, peran dari kiai-kiai, peran daripada pesantren sangat besar,” katanya.

Prabowo kemudian menegaskan eratnya hubungan antara kekuatan NU dan kekuatan Indonesia. “NU kuat artinya Indonesia kuat. Kalau NU rukun, Indonesia rukun. NU berkhidmat, Indonesia bermartabat,” tuturnya.

Editor: Zainul Arifin

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut