Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Ini Dia 9 Kiai Tim AHWA Penentu Rais Aam dan Ketua Umum PBNU di Muktamar ke-35 NU Jombang
Advertisement . Scroll to see content

Pengasuh Ponpes di Jombang Soroti Mubes dan Konbes NU di Kediri, Ricuh Tidak Beretika!

Sabtu, 27 Juni 2026 | 21:02 WIB
  • author Zainul Arifin
Pengasuh Ponpes di Jombang Soroti Mubes dan Konbes NU di Kediri, Ricuh Tidak Beretika!
Pengasuh Ponpes Darul Ulum Peterongan Jombang KH Zainul Ibad As'ad atau Gus Ulib. (Foto: Dok)

JOMBANG, iNewsMojokerto.id - Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Ulum Jombang, KH Zainul Ibad As'a (Gus Ulib), menyampaikan kritik tajam terhadap suasana pelaksanaan Musyawarah besar (Mubes) dan konferensi besar (Kombes) Nahdlatul Ulama (NU) di Ponpes Al Falah, Ploso, Kediri.

Sebab, agenda besar itu penuh ketegangan hingga sempat ricuh sebelum berakhir. Sejumlah peserta terlibat aksi saling dorong, dipicu kesalahpahaman akibat ketok palu pimpinan sidang yang langsung memutuskan Muktamar.

Perdebatan dalam forum berkembang menjadi adu argumentasi. Suasana yang memanas memicu aksi saling dorong antarpeserta. Mereka pun langsung diamankan oleh petugas keamanan yang bertugas mengawal jalannya sidang.


Munas dan Konbes NU Sempat Ricuh hingga Terjadi Aksi Saling Dorong. (Foto: Okezone)

Gus Ulib menilai acara tersebut jauh dari ekspektasi akar rumput dan justru mempertontonkan sejumlah insiden yang minim cerminan akhlak ulama.

"Sepertinya (kegaduhan itu) tidak dirasakan para petinggi NU. Tidak ada satupun pernyataan atau kalimat permintaan maaf. Mereka seakan terkesan tidak merasa bersalah atas ketidaknyamanan yang dirasakan seluruh jam'iyah selama satu periode ini," ungkap Gus Ulib kepada iNews.id di Jombang, Sabtu (27/6/2026).

Menurut dia, mayoritas warga Nahdliyin yang hadir menantikan adanya pernyataan menyejukkan dari para petinggi PBNU. Akar rumput berharap ada permintaan maaf terbuka dari Ketua Umum maupun Rais Aam atas berbagai kegaduhan dan dinamika internal yang membuat suasana tidak nyaman selama satu tahun terakhir. Namun, harapan tersebut kandas karena tak ada satu pun penyataan yang mengarah ke sana.

Kritik juga diarahkan pada penyampaian pidato Rais Aam yang sepenuhnya menggunakan bahasa Arab. Mengingat acara tersebut turut dihadiri oleh tamu undangan dari berbagai instansi di luar lingkungan struktural NU, penggunaan bahasa Arab secara utuh dinilai kurang bijaksana karena tidak dapat dipahami oleh banyak pihak.

Dia menilai hal ini tidak mencerminkan kedewasaan karena gagal memberikan pemahaman mengenai agenda acara kepada para tamu eksternal.

Gus Ulib juga turut menyoroti atmosfer persidangan yang terasa kaku dan dipenuhi nuansa saling curiga antarpeserta. Pengasuh Ponpes Darul Ulum Jombang ini menangkap kesan kuat adanya kubu-kubu yang saling mengawasi, unjuk kekuatan, hingga mementingkan kelompoknya masing-masing.

Puncak keprihatinan terjadi saat pembahasan penentuan lokasi Muktamar. Gus Ulib menyebut adanya perilaku dari peserta yang mencerminkan sikap nir-adab (tidak beretika), sangat tidak pantas dipertontonkan di dalam sebuah organisasi besar yang menaungi para ulama.

"Ulama itu identik dengan moral dan akhlak. Organisasi ini harus menjadi uswah (teladan) bagi bangsa. Kita sangat menyayangkan kejadian ini," tandasnya.

Dirinya berharap insiden dan suasana negatif pada acara Munas dan Konbes di Kediri tidak berlanjut atau merembet pada penyelenggaraan Muktamar, Agustus nanti. Seluruh elemen NU, terutama generasi muda diharapkan untuk kembali merenungkan serta menjaga marwah organisasi.

"Harapannya ke depan kesadaran akan tingginya nilai moral dan keahlakan dikedepankan kembali oleh seluruh panitia maupun peserta yang hadir," kata Gus Ulib menutup.

Editor: Zainul Arifin

Related News

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut