Pengasuh Ponpes di Jombang Desak Pembenahan Kepanitiaan Muktamar NU 2026, Ini Alasannya
JOMBANG, iNewsMojokerto.id - Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Ulum Jombang, KH Zainul Ibad Wijaya As’ad atau Gus Ulib mendesak untuk dilakukan pembenahan total struktur kepanitiaan Muktamar NU 2026 yang telah terbentuk.
Panitia Muktamar NU 2026 yang telah terbentuk yakni Syaifullah Yusuf atau Gus Ipul sebagai ketua. Kemudian Katib Am PBNU sebagai Steering Committee (SC) atau panitia pengarah, Mohammad Nuh sebagai sekretaris SC dan sekretaris Organizing Committee (OC) atau panitia pelaksana, Amin Said Husni.
Gus Ulib menyatakan, pembenahan perlu dilakukan demi menjamin lahirnya kepengurusan yang lebih baik dan mampu membawa perubahan positif bagi organisasi.
"Keberhasilan Muktamar sangat bergantung pada integritas penyelenggara yang harus bersih dari berbagai kepentingan luar. Saya berharap dilakukan pembenahan total (kepanitiaan)," kata Gus Ulib, dalam pernyataannya, Rabu (1/4/2026).
Pengasuh Ponpes Darul Ulum Jombang tersebut menekankan pentingnya sterilisasi kepanitiaan dari anasir-anasir jahat, joki politik, hingga pengaruh kepentingan tambang yang dinilai tidak memberikan faedah bagi NU.
Dia menyoroti masalah netralitas panitia yang ditunjuk saat ini, terutama bagi mereka yang dianggap justru menawarkan diri demi posisi tertentu.
Baginya, format kepanitiaan harus dibenahi secara mendasar sebelum muktamar resmi dilaksanakan agar tidak mengulang pola-pola lama yang merugikan.
“Kita semua berharap agar muktamar segera dilaksanakan agar segera memiliki kepengurusan NU yang lebih baik dan membawa NU yang lebih baik dan tentunya hasil baik. Penyelenggaranya ya harus bersih dari anasir-anasir jahat, anasir-anasir joki politik, anasir-anasir tambang, anasir-anasir yang tidak berfaedah, dan lainnya harus bersih,” ujar dia.
Gus Ulib menyatakan rasa pesimisnya jika nakhoda penyelenggara masih dipegang figur yang saat ini ditunjuk sebagai ketua panitia Muktamar NU.
Bahkan, dia mengibaratkan seperti menyerahkan sapi kepada tukang jagal, yang dalam istilah Jawa disebut “wes mesti dibeleh” atau sudah pasti akan disembelih. Ulama muda ini pun mengingatkan agar warga Nahdlatul Ulama (NU) tidak kembali menjadi korban integritas kepanitiaan yang dipertanyakan.
"Ayolah, orang NU yang sehat-sehat itu, bentuk kepanitian yang lebih waras, lebih baik, untuk menghasilkan NU yang lebih memiliki citra keumatan, sense keumatan. Saya kira itu mohon segera dikoreksi,” katanya menandaskan.
Editor : Zainul Arifin