Beda Keyakinan Satu Kepedulian, Warga Tionghoa Tebar Seribu Takjil di Jombang
Aksi sosial ini ternyata bukan agenda tunggal. Pembagian takjil merupakan puncak dari rangkaian safari kebangsaan bertajuk: Memori Masyarakat Tionghoa terhadap Gus Dur. Sebelumnya, rombongan yang terdiri dari 71 perwakilan asal Surabaya, Malang, dan Jombang ini melakukan ziarah ke makam KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Tebuireng.
Bagi komunitas Tionghoa, nama Gus Dur adalah oase sejarah. Presiden ke-4 RI itulah yang merobohkan tembok diskriminasi dan memberikan ruang bagi etnis Tionghoa untuk merayakan identitas budaya mereka, termasuk Imlek.
"Gus Dur adalah tokoh kemanusiaan yang berani membuka sekat antar anak bangsa," ungkap Ketua Pengurus Daerah INTI Jawa Timur, Stefanus Budy.
"Pesan beliau sangat jelas: jadilah pribadi yang bermanfaat bagi sesama tanpa memandang latar belakang agama maupun etnis," sambung dia.
Perjalanan INTI Jatim di Jombang juga menyentuh aspek kultural dengan mengunjungi Klenteng Hong San Kiong dan Museum Wayang Potehi di Gudo. Di sana, mereka menemukan fakta menarik: seni tradisional Tionghoa kini banyak dipelajari oleh para santri. Fenomena ini dipandang sebagai bukti nyata bahwa budaya bisa menjadi jembatan diplomasi yang paling cair dan efektif.
Melalui pembagian takjil dan napak tilas sejarah ini, INTI Jawa Timur berharap semangat pluralisme yang diwariskan Gus Dur tidak hanya berhenti pada narasi, tetapi mewujud dalam tindakan nyata yang berkelanjutan. Di Alun-Alun Jombang sore itu, mereka membuktikan bahwa toleransi memiliki rasa yang manis semanis es degan yang dibagikan saat azan magrib berkumandang.
Editor : Zainul Arifin