Sadarestuwati merinci tahapan budidaya presisi yang ia terapkan di lahan demplot Jombang. Pertama adalah pembalikan tanah atau embalik struktur tanah untuk memutus siklus patogen, kedua adalah aplikasi biodekomposisi atau penyemprotan cairan Biodekom hasil produksi mandiri untuk mempercepat pembusukan bahan organik.
Selanjutnya adalah pengomposan alami, mengubah sisa jerami dan unsur organik menjadi kompos subur. Kemudian pengendalian gulma, aplikasi herbisida terukur sebelum proses pengolahan akhir dan pemberian rotary atau penggunaan mesin rotary untuk menghaluskan media tanam.
"Setelah panen, saya brojol dulu, kemudian disemprot dengan Biodekom yang kita hasilkan sendiri. Setelah itu sudah menjadi kompos, kemudian disemprot dengan herbisida, baru kemudian di-rotary," jelas Sadarestuwati.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan fenomena unik di lapangan. Meskipun ditanam paling akhir dibandingkan varietas konvensional lain seperti Inpari 32, Inpari 49, dan Inpari 42, padi GP 65 Bogor justru menunjukkan kecepatan pertumbuhan yang fantastis dan masuk masa panen lebih dulu. Varietas ini juga terbukti tangguh dengan sistem pengairan hemat berbasis pipanisasi, menjadikannya solusi adaptif budidaya musim kemarau.
"Ini paling akhir, dan alhamdulillah ternyata panennya paling awal. Ini cocok untuk ketika menanam pada musim kemarau. Bukan berarti pada musim penghujan enggak bagus, lebih bagus lagi. Akan tetapi di kemarau dia tahan dan alhamdulillah hasilnya sangat bagus," katanya.
Terkait ketersediaan bibit bagi masyarakat luas, Sadarestuwati menegaskan bahwa benih yang diuji saat ini masih berstatus Benih Dasar (BD).
Editor : Zainul Arifin
Artikel Terkait
