Adelia mengatakan membuat batik bukan perkara mudah. Selain membutuhkan waktu beberapa hari untuk menggambar dan mencanting sebelum tahap pewarnaan, juga terdapat tantangannya.
Yakni terletak pada proses mencanting. Suhu malam yang terlalu panas dapat menyebabkan lilin melebar sehingga motif menjadi kurang rapi. "Kalau malamnya terlalu panas, hasil canting bisa meleber. Suhunya harus pas supaya hasilnya bagus," ujarnya.
Sementara itu, Kepala SMKN 1 Jombang, Abdul Muntolib, mengatakan membatik merupakan bagian dari pembelajaran kewirausahaan yang bertujuan membekali siswa dengan keterampilan berbisnis setelah lulus sekolah.
"Kami ingin anak-anak memiliki keterampilan khusus. Momen Piala Dunia ini mereka tangkap menjadi sebuah peluang usaha melalui karya batik," ujarnya.
Ia menuturkan ide pembuatan batik bertema sepak bola justru datang dari para siswa. Pihak sekolah kemudian memberikan dukungan agar gagasan tersebut dapat diwujudkan menjadi produk bernilai ekonomi. Selain batik, siswa juga menghasilkan berbagai produk kewirausahaan lain, seperti parfum, sablon kaus, hingga cetak mug.
Muntolib berharap pengalaman tersebut mampu menumbuhkan kreativitas dan keberanian siswa dalam melihat peluang usaha dari berbagai peristiwa yang sedang menjadi perhatian masyarakat. "Harapannya anak-anak memiliki inisiatif dan inovasi. Ketika ada sesuatu yang sedang booming, mereka mampu menangkap peluang itu menjadi produk yang bermanfaat," katanya.
Editor : Zainul Arifin
Artikel Terkait
