JOMBANG, iNewsMojokerto.id - Ketua Lembaga Kesehatan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LK PBNU) dr H. Zulfikar As’ad berpendapat sangat dimungkinkan terdapat perbedaan penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah, karena secara nyata awal penetapan bulan Ramadan juga sudah terjadi perbedaan.
Muhammadiyah memulai Ramadan lebih awal satu hari dibandingkan pemerintah dan Nahdlatul Ulama (NU) sehingga hal tersebut berpotensi pula menyebabkan perbedaan dalam penentuan tanggal Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026.
"Bila perbedaan ini terjadi, maka itu merupakan hal yang sangat wajar, dan itu terjadi sejak zaman Nabi dan insyaAllah sampai akhir nanti, sehingga sama sekali tidak perlu kita permasalahkan atau diperdebatkan. Dan yang demikian ini sangat banyak dicontohkan oleh Nabi kita Muhammad SAW," kata Gus Ufik sapaan akrabnya.
Saat ini karena Muhammadiyah menggunakan metode hisab tersebut, maka sudah ditetapkan bahwa akan melaksanakan Idulfitri pada Jumat 20 Maret 2026. Sementara NU dalam penentuannya menggunakan rukyatul hilal, adapun kedua metode itu sama-sama memiliki dasar dan dapat menghasilkan kesamaan maupun perbedaan dalam praktiknya.
"Oleh karena itu, saya berharap agar kita tidak memperbesar perbedaan tersebut, jauh lebih bermakna kita sebagai masyarakat menyikapinya dengan baik, saling menghargai dan tidak saling menyalahkan," kata Rektor Unipdu Jombang ini.
Pada hakikatnya, kata Gus Ufik, para ahli Falaq NU juga tetap menggunakan metode hisab dalam memperhitungkan kalender Hijriyah secara umum, hanya dalam konteks tertentu dan krusial seperti penetapan awal bulan Ramadhan atau Idulfitri tetap menggunakan dan mengutamakan rukyatul hilal.
Jika hilal telah memenuhi kriteria "imkanur rukyah" atau memungkinkan untuk terlihat, maka Idul Fitri dapat ditetapkan. Namun jika belum memenuhi syarat, maka bulan Ramadhan disempurnakan menjadi 30 hari (istikmal).
Disamping itu secara kelembagaan, NU tetap menunggu keputusan resmi pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama RI yang juga memiliki pakar yang melakukan penghitungan hisab maupun rukyah, serta memiliki perwakilan dari berbagai ormas untuk melakukan sidang isbat pada sore ini.
Jika dalam sidang isbat terdapat laporan hilal terlihat sesuai kriteria dalam penentuan bulan baru yang sudah disepakati para ulama, maka Idulfitri bisa ditetapkan keesokan harinya. Namun jika tidak, maka Ramadhan digenapkan 30 hari atau istikmal.
"Sekali lagi saya mengajak kepada semua lapisan masyarakat untuk mengikuti dan meyakini keputusan dari Ulama dan pemerintah dengan baik," katanya.
Gus Ufik menambahkan, pada penghujung Ramadan yang terpenting adalah mempersiapkan segala sesuatu utamanya kewajiban untuk berzakat dan berfitrah. Menurutnya, Zakat fitrah bukan sekedar kewajiban tahunan, melainkan bentuk penyucian jiwa setelah menjalani ibadah puasa sekaligus sarana berbagi kebahagiaan menjelang Idulfitri.
"Ketika kita melaksanakan zakat fitrah utamanya, harus sudah tersampaikan kepada yang berhak sebelum dilaksanakan Salat Idulfitri. Waktu sunnah adalah sejak terbenam matahari di akhir Ramadan hingga sebelum pelaksanaan salat Idulfitri," katanya.
Inilah waktu terbaik karena zakat akan sampai kepada yang berhak tepat sebelum hari raya. Sebagaimana hadist Nabi SAW: “Barangsiapa yang menunaikan zakat fitrah sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah salat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah” (HR. Abu Daud)
Editor : Zainul Arifin
Artikel Terkait
