Beda Keyakinan Satu Kepedulian, Warga Tionghoa Tebar Seribu Takjil di Jombang

Aries
Warga Tionghoa membagikan 1.000 takjil di Jombang. Foto Mojokerto.iNews.id/Dok Aries

JOMBANG, iNewsMojokerto.id– Terik matahari di kawasan Alun-Alun Jombang perlahan melunak berganti semburat jingga, Sabtu (7/3/2026). Di sudut Pos Kota, suasana yang biasanya tenang mendadak riuh oleh antusiasme warga.

Sore itu, bukan sekadar urusan perut yang sedang dipuaskan, melainkan sebuah pesan mendalam tentang toleransi yang sedang dirajut. Puluhan pengurus Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Jawa Timur tampak sibuk.

Tangan-tangan mereka dengan cekatan menyodorkan sekitar 1.000 paket takjil untuk buka puasa kepada pengendara dan pejalan kaki yang melintas. Senyum merekah di wajah para pemberi maupun penerima, menciptakan pemandangan harmonis di jantung Kota Santri.

Paket berbuka yang dibagikan bukan sekadar pelengkap ritual. Di dalamnya tersaji menu lengkap. Nasi ayam, tahu-tempe, sambal lalapan, kerupuk, hingga kesegaran es degan dan teh kemasan. Namun, bagi INTI Jatim, isi kotak tersebut adalah simbol kepedulian lintas iman.

"Kami ingin berbagi kebahagiaan sekaligus mempererat tali persaudaraan. Ini adalah komitmen kami untuk terus merawat kerukunan di tengah keberagaman," ujar Ketua Panitia Kegiatan, Phoa Anditya.

Pria yang karib disapa Andi ini mengaku terkejut. Belum genap satu jam, seribu paket takjil ludes berpindah tangan. Kecepatan masyarakat menyambut uluran tangan ini, bagi Andi, adalah indikator kuat bahwa sekat perbedaan tidak menghalangi kebersamaan di Jombang.

Aksi sosial ini ternyata bukan agenda tunggal. Pembagian takjil merupakan puncak dari rangkaian safari kebangsaan bertajuk: Memori Masyarakat Tionghoa terhadap Gus Dur. Sebelumnya, rombongan yang terdiri dari 71 perwakilan asal Surabaya, Malang, dan Jombang ini melakukan ziarah ke makam KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Tebuireng.

Bagi komunitas Tionghoa, nama Gus Dur adalah oase sejarah. Presiden ke-4 RI itulah yang merobohkan tembok diskriminasi dan memberikan ruang bagi etnis Tionghoa untuk merayakan identitas budaya mereka, termasuk Imlek.

"Gus Dur adalah tokoh kemanusiaan yang berani membuka sekat antar anak bangsa," ungkap Ketua Pengurus Daerah INTI Jawa Timur, Stefanus Budy.

"Pesan beliau sangat jelas: jadilah pribadi yang bermanfaat bagi sesama tanpa memandang latar belakang agama maupun etnis," sambung dia.

Perjalanan INTI Jatim di Jombang juga menyentuh aspek kultural dengan mengunjungi Klenteng Hong San Kiong dan Museum Wayang Potehi di Gudo. Di sana, mereka menemukan fakta menarik: seni tradisional Tionghoa kini banyak dipelajari oleh para santri. Fenomena ini dipandang sebagai bukti nyata bahwa budaya bisa menjadi jembatan diplomasi yang paling cair dan efektif.

Melalui pembagian takjil dan napak tilas sejarah ini, INTI Jawa Timur berharap semangat pluralisme yang diwariskan Gus Dur tidak hanya berhenti pada narasi, tetapi mewujud dalam tindakan nyata yang berkelanjutan. Di Alun-Alun Jombang sore itu, mereka membuktikan bahwa toleransi memiliki rasa yang manis semanis es degan yang dibagikan saat azan magrib berkumandang.

Editor : Zainul Arifin

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network