JOMBANG, iNewsMojokerto.id – Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Jawa Timur (Jatim) melaksanakan safari silaturahmi kebangsaan di Kabupaten Jombang, Sabtu (7/3/2026). Kegiatan bertajuk Memori Masyarakat Tionghoa terhadap Gus Dur ini menjadi momentum penguatan nilai toleransi dan persaudaraan lintas budaya di tengah keberagaman bangsa.
Rombongan yang terdiri dari puluhan delegasi asal Surabaya, Malang, dan Jombang itu mengawali rangkaian agenda dengan berziarah ke makam Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), di kompleks pemakaman masyayikh Pondok Pesantren Tebuireng.
Ketua Pengurus Daerah INTI Jatim, Stefanus Budy, menegaskan bahwa kunjungan ini merupakan bentuk penghormatan atas jasa besar Gus Dur dalam memulihkan hak sipil masyarakat Tionghoa di Indonesia.
Menurutnya, keberanian Gus Dur dalam meruntuhkan sekat eksklusivitas telah memberikan ruang bagi etnis Tionghoa untuk mengekspresikan identitas budaya mereka secara terbuka.
"Gus Dur adalah tokoh kemanusiaan dan pluralisme. Kebijakan beliau menjadi titik balik bagi kami untuk berpartisipasi aktif sebagai anak bangsa tanpa rasa takut," ujar Stefanus di sela-sela kegiatan.
Ia juga menekankan satu pesan fundamental Gus Dur yang terus dijaga oleh komunitasnya: Menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama tanpa memandang latar belakang agama maupun etnis.
Selain ziarah, INTI Jatim melakukan kunjungan budaya ke Klenteng Hong San Kiong dan Museum Wayang Potehi di Gudo.
Ketua Panitia, Phoa Anditya, menyebut ada fenomena menarik di lokasi tersebut, di mana kesenian khas Tionghoa justru dipelajari oleh para santri.
"Di workshop Wayang Potehi, kami melihat bukti nyata inklusivitas. Banyak santri yang menekuni kesenian ini. Ini adalah jembatan persaudaraan yang konkret," kata Phoa.
Sebagai bentuk implementasi nilai kemanusiaan, kegiatan ditutup dengan pembagian 1.000 paket takjil di kawasan Alun-Alun Jombang. Aksi sosial ini menjadi simbol harmoni antara komunitas Tionghoa dengan masyarakat luas, terutama dalam momentum menyambut bulan suci Ramadan.
Bagi INTI, sosok Gus Dur bukan sekadar pemimpin politik, melainkan inisiator yang mendorong lahirnya organisasi tersebut pascareformasi 1998. Organisasi ini berkomitmen untuk terus merawat memori kolektif tentang Gus Dur guna memastikan semangat kerukunan lintas suku dan agama tetap terjaga di masa depan.
Editor : Zainul Arifin
Artikel Terkait
