Potret 1.140 Jiwa di Utara Sungai Brantas Jombang Bertahan Hidup di Tengah Kemarau
JOMBANG, iNewsMojokerto.id - Terik matahari akhir Oktober membakar tanah kering Dusun Brangkal, Desa Jipurapah, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Di bawah sengatan panas, Suko (57) bersama sejumlah warga menyusuri dasar sungai yang mengering di sebelah barat permukiman.
Tidak ada gemericik air, hanya hamparan pasir dan batu. Dengan peralatan seadanya, mereka menggali lubang-lubang kecil yang biasa disebut masyarakat sebagai belik, di dasar sungai demi mendapatkan beberapa gayung air keruh sekadar untuk mandi dan mencuci.
"Sumur di rumah sudah mati, tidak keluar airnya sama sekali. Sungai juga kering. Kalau mau cuci-mandi, ya harus jalan 200 sampai 300 meter lalu nggali tanah sungai," tutur Suko ditemui, Sabtu (24/10/2026).
Untuk konsumsi minum dan memasak, cerita Suko beda lagi. Ia dan keluarganya harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli air isi ulang.
Bagi keluarga dengan ternak, krisis ini teramat mencekik. Rata-rata satu rumah tangga membutuhkan minimal tiga ember besar sehari, belum termasuk pasokan untuk kelangsungan hidup hewan ternak mereka.
Krisis yang menimpa masyarakat pelosok Jombang ini mengetuk kesadaran publik akan pentingnya ketahanan air dan keandalan proyek infrastruktur desa. Bantuan tangki air memang hadir menyelamatkan warga dari dahaga hari ini, namun harapan masyarakat jauh melebihi bantuan darurat.
"Kalau bisa, bantuan air dikirim terus sampai musim hujan turun. Ini baru pertama kali ada kiriman," harap Suko sambil memandangi wadah airnya yang kini terisi.
Di balik antrean jeriken warga Brangkal dan Jipurapah, ada dorongan kuat bagi pemerintah daerah untuk tidak sekadar memadamkan kebakaran lewat tangki air, tetapi juga mengevaluasi kegagalan Pamsimas dan mencari sumber air baku yang layak bagi masyarakat pedesaan.
Sebab hingga langit menurunkan hujannya, air bersih akan terus menjadi barang mewah yang harus diperjuangkan dengan galian tanah dan tetes keringat warga.
Kondisi serba sulit ini bukan hanya milik Suko. Di kawasan utara Sungai Brantas ini, krisis air bersih merenggut kenyamanan hidup 1.140 jiwa dari 400 Kepala Keluarga (KK) yang tersebar di Dusun Brangkal (600 jiwa) dan Dusun Jipurapah (540 jiwa).
Tak hanya dapur warga, fasilitas publik dan pendidikan ikut menanggung dampaknya. Sebanyak 94 siswa di SDN Jipurapah 1 dan 53 siswa di SMPN 3 Plandaan kini harus belajar di tengah keterbatasan pasokan air bersih. Kekeringan tahun ini dirasakan jauh lebih berat dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Kepala Dusun Brangkal, Suwoto, menceritakan bahwa kemarau biasanya cukup dihadapi dengan memompa sumur bor warga. Namun kini, debit air tanah merosot drastis hingga tak sanggup lagi dipompa, terutama di wilayah RT 1, RT 2, dan RT 4.
Rakyat bukannya tanpa upaya. Sekitar satu tahun lalu, proyek Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) dibangun di wilayah tersebut sebagai solusi jangka panjang. Sayangnya, infrastruktur publik itu kini seolah menjadi monumen tak berguna.
"Sejak awal dibangun, air dari Pamsimas terasa asin dan tidak layak dikonsumsi. Jadi warga sama sekali tidak punya sumber air komunal yang bisa diandalkan begitu sumur pribadi mengering," pukas Suwoto.
Gagalnya fasilitas Pamsimas menyajikan air layak minum memaksa warga sepenuhnya bergantung pada alam yang sayangnya sedang tidak ramah.
Titik terang baru terlihat ketika truk tangki berwarna oranye milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jombang mulai menderu memasuki jalanan desa. Sorot mata warga yang kelelahan berganti menjadi antusiasme saat mengantre ember dan jeriken mereka.
Supervisor BPBD Jombang, Stevy Maria atau Pepy, menegaskan bahwa penanganan darurat di Desa Jipurapah kini menjadi prioritas. BPBD mengagendakan pengiriman air bersih secara berkala setiap dua hari sekali.
"Setiap dusun mendapat alokasi dua tangki berkapasitas masing-masing 5.000 liter. Jadi total bantuan yang kami guyur mencapai 10.000 liter per dusun dalam sekali penyaluran," papar Pepy.
Meski demikian, pasokan tangki BPBD hanyalah penyambung nyawa sementara. Terlebih lagi, Jipurapah kini memperpanjang daftar wilayah krisis air di Kabupaten Jombang menjadi tiga lokasi, menyusul Desa Latsari (Kecamatan Mojowarno) yang terkendala operasional irigasi perpompaan, serta Desa Kebondalem (Kecamatan Bareng) yang juga mengalami masalah kegagalan fungsi Pamsimas.
Editor: Zainul Arifin