Fenomena Bediding Diperkirakan Hingga Muktamar NU di Jombang, Ini Saran Dokter untuk Muktamirin
JOMBANG, iNewsMojokerto.id - Fenomena bediding yang menyebabkan suhu udara terasa lebih dingin pada malam hingga pagi hari yang terjadi saat ini diperkirakan berlangsung hingga pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang pada akhir Agustus nanti.
Bahkan, Direktur RSUD Jombang, dr. Puji Umbaran menyebut angin akan semakin kencang hingga suhu udara terasa semakin dingin pada Bulan Agustus nanti. Untuk itu, panitia diharapkan siap menghadapi cuaca cukup dingin nantinya.
"Mungkin AC atau pendingin ruangan penginapan muktamirin diatur sedemikan rupa. Tapi sepertinya panitia sudah tahu, karena juga ada tim medis yang disiapkan oleh panitia," kata dokter Puji ditemui di RSUD Jombang, Selasa (28/7/2026).
Bediding merupakan fenomena atmosfer yang normal terjadi selama musim kemarau. Fenomena tersebut bukan dampak langsung perubahan iklim, melainkan bagian dari dinamika iklim musiman yang hampir selalu terjadi pada periode Juni hingga September.
Menurut dokter Puji, perubahan suhu ekstrem saat ini dapat menyebabkan kondisi tubuh mudah drop. Maka, masyarakat Jombang termasuk muktamirin NU nantinya disarankan menjaga kondisi kesehatan tubuh dengan mengonsumsi makanan yang cukup, sesuai dengan keseimbangan gizi.
Selain itu, juga minum air dan istirahat harus cukup. Puji juga menyarankan apabila keluar rumah pada siang hari karena angin dan debu cukup banyak, untuk memakai masker. Hal itu supaya tidak terjadi penghirupan debu dan iritan iritan lain yang masuk ke saluran pernapasan.
"Dikhawatirkan tentunya gesekan itu menyebabkan infeksi saluran napas yang bisa berdampak. Karena terbukti bahwa kunjungan pasien dengan gangguan saluran napas cukup signifikan, ada kenaikan. Jadi ini adalah bagian dari dampak perubahan cuaca ini," ujarnya.
Lebih lanjut dokter Puji menambahkan bahwa RSUD Jombang akan melakukan penanganan maksimal jika menerima rujukan pasien dari peserta muktamar maupun penggembira yang mengalami gangguan kesehatan atau sakit.
"Panitia itu sudah menyiapkan pos-pos kesehatan di sekitar area Muktamar yang terintegrasi dengan rumah sakit. Kami yang terafiliasi dengan tim di lapangan ketika membutuhkan rujukan, kami akan berikan penanganan sesuai dengan SOP yg ada di RSUD Jombang," ujarnya.
Puji menegaskan bahwa penanganan pasien di rumah sakit pelat merah tersebut akan memprioritaskan pasien dengan pembiayaan BPJS kesehatan. Apabila pasien tidak memilikinya, maka harus mendapat kebijakan khusus dari Kepala Daerah.
"Kami berharap semua peserta muktamar memiliki BPJS kesehatan sehingga ketika ada yang sakit butuh rujukan kita bisa maksimalkan pembiayaan di BPJS kesehatan. Kalaupun seandainya mereka tidak memiliki itu, maka butuh kebijakan khusus dari kepala daerah, dan kami akan menyampaikan kepada bapak bupati terkait itu," tandasnya.
Perlu diketahui, Muktamar ke 35 NU akan dilaksanakan PBNU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang Jawa Timur pada 27-31 Agustus 2026. Saat ini, panitia lokal terus mematangkan persiapan acara baik fasilitas maupun akomodasi muktamirin.
Editor : Zainul Arifin