Kandang Bebek Program Adiwiyata SDN Losari Jombang Diprotes Warga Karena Bau
JOMBANG, iNewsMojokerto.id – Niat baik SDN Losari di Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang untuk mempertahankan predikat bergengsi justru berujung protes. Upaya sekolah mengelola kandang berisi sekitar 50 ekor bebek demi penilaian Sekolah Adiwiyata Mandiri kini dikeluhkan warga sekitar karena memicu aroma tidak sedap.
Bau menyengat dari kotoran bebek tersebut dinilai sangat mengganggu kenyamanan lingkungan, terutama sore hingga malam hari. Kondisi kurang nyaman itu dilaporkan telah berlangsung selama kurang lebih enam bulan terakhir.
Salah satu warga yang terdampak langsung adalah Anita Sari Anggraini. Rumah wanita berusia 31 tahun ini terletak tepat di belakang area sekolah, membuatnya terpaksa menghirup bau menyengat setiap hari, terutama saat cuaca sedang lembap.
"Baunya itu bau kotoran bebek yang sangat menyengat. Apalagi kalau cuaca lembap, pagi, menjelang sore, bahkan malam hari lebih terasa. Saat maghrib sampai malam itu paling menyengat," ujar Anita.
Situasi ini kian mengkhawatirkan bagi warga karena lingkungan pemukiman tersebut banyak dihuni oleh anak-anak dan bayi. Demi kesehatan keluarga, warga terpaksa menutup rapat seluruh akses udara pada malam hari.
Merasa terganggu, Anita akhirnya melaporkan masalah itu ke pemerintah desa setempat dengan harapan kandang bebek segera dipindahkan ke lokasi lain yang jauh dari rumah warga.
"Kalau bisa ya dipindah. Menurut saya, peternakan bebek seharusnya tidak berada dekat permukiman warga. Mau diberi saluran irigasi atau penanganan seperti apa pun, baunya akan tetap ada," katanya.
Merespons keresahan tetangga sekolahnya, Kepala SDN Losari, Nasir berjanji segera mencari solusi terbaik agar kenyamanan warga kembali pulih tanpa harus mengorbankan proses belajar-mengajar para siswa. Sekolah berkomitmen mengadopsi teknik peternakan yang lebih modern guna menekan bau kotoran bebek.
"Kami siap menyelesaikan masalah ini. Keluhan warga kami jadikan tantangan untuk berbenah. Kami akan mencari cara dan menerapkan teknik beternak modern yang bisa mengurangi bau secara signifikan. Memang bau peternakan tidak bisa hilang total, tapi kami berkomitmen untuk meminimalkannya agar warga sekitar kembali nyaman," katanya.
Nasir menjelaskan, keberadaan puluhan bebek itu murni program edukasi lingkungan hidup dan kewirausahaan. Setelah berhasil meraih predikat Sekolah Adiwiyata Nasional tahun lalu, saat ini sekolah sedang berjuang menuju tingkat Mandiri dengan fokus pada program Keanekaragaman Hayati.
"Kami mengelola bebek ini sebagai media pembelajaran siswa kelas IV, V, dan VI. Mereka belajar cara memberi makan, mengambil telur, mencuci, hingga mengolahnya menjadi telur asin. Hasilnya pun dinikmati kembali oleh anak-anak," jelas Nasir.
Nasir juga menepis isu miring yang beredar di masyarakat mengenai fungsi kandang tersebut. Ia menegaskan bahwa peternakan mini ini tidak ditujukan untuk mencari keuntungan finansial, apalagi menjadi penyuplai program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sedang berjalan.
"Ini murni untuk pembelajaran praktik anak-anak, bukan untuk stok MBG atau tujuan komersial," tegasnya.
Dalam operasional harian, para siswa bergantian melakukan piket dengan didampingi guru serta penjaga sekolah. Pihak sekolah juga memanfaatkan sisa makanan bersih dari program MBG sebagai pakan tambahan di samping pakan konsentrat agar tidak ada makanan yang terbuang sia-sia.
Editor : Zainul Arifin