Santri di Jombang yang Keracunan Makanan Buka Puasa 31 Orang, Begini Kondisinya
JOMBANG, iNewsMojokerto.id - Jumlah keracunan massal setelah mengonsumsi makanan buka puasa pada Kamis (5/3/2026) malam, sebanyak 31 orang. Korban keracunan massal merupakan santri Pondok Pesantren Sholawat Darut Taubah, Desa Betek, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang.
Gejala keracunan mual dan muntah mulai dirasakan para santri setelah menyantap makanan nasi rawon dan telur asin saat berbuka puasa di lingkungan pondok pesantren setempat.
"Saat ini ada 31 santri yang sempat mendapatkan perawatan di RSU PKU Muhammadiyah Mojoagung,” tutur Kapolres Jombang AKBP Ardi Kurniawan di lokasi.
Ardi memastikan kondisi para santri yang sempat dirawat itu kini berangsur membaik. Sebagian besar sudah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan penanganan medis.
“Untuk yang masih berada di ruang IGD saat ini tinggal tujuh orang, terdiri dari satu santri laki-laki dan enam santri perempuan. Kondisinya juga sudah stabil dan bisa berkomunikasi,” katanya.
Polisi telah meminta keterangan dari sejumlah santri untuk mengetahui makanan yang mereka konsumsi sebelum mengalami keluhan keracunan.
“Hasil keterangan sementara, ada yang makan rawon saja, ada yang makan telur asin saja, dan ada yang mengonsumsi keduanya. Beberapa tetap mengalami gejala, sehingga ini masih kami dalami,” ujarnya.
Pada pemeriksaan awal melalui uji cepat atau rapid test terhadap beberapa sampel makanan, menunjukkan tidak ditemukan indikasi adanya zat kimia berbahaya. “Dari hasil rapid test sementara tidak ditemukan kandungan bahan berbahaya seperti formalin, sianida, nitrat maupun arsenik,” kata Ardi.
Untuk memastikan penyebabnya, polisi bersama Dinas Kesehatan Jombang melakukan pengambilan sejumlah sampel makanan dan bahan yang dikonsumsi para santri. Sampel itu meliputi nasi rawon beserta kuahnya, telur asin yang dimakan saat berbuka puasa, serta sampel muntahan dari para santri.
“Semua sampel tersebut kami siapkan untuk pemeriksaan lebih lanjut di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Timur di Surabaya agar dapat diketahui penyebabnya secara ilmiah,” kata Ardi.
Kepala Dinas Kesehatan Jombang, dr. Hexawan Tjahja Widada menambahkan pemeriksaan lanjutan difokuskan pada uji laboratorium.
“Sampel yang kami kirim meliputi makanan, muntahan pasien, serta sampel air dari lingkungan pondok. Pemeriksaan laboratorium termasuk uji mikrobiologi untuk memastikan sumbernya,” imbuhnya.
Ia menambahkan bahwa proses pemeriksaan laboratorium membutuhkan waktu sebelum hasilnya dapat dipastikan. “Untuk pemeriksaan laboratorium dan kultur bakteri biasanya memerlukan waktu sekitar 10 hari agar hasilnya benar-benar akurat,” pungkasnya.
Editor : Zainul Arifin