Melihat Lumbung Paceklik di Jombang, Penyangga Pangan dan Ekonomi Petani Desa Sejak 1963
Setoran dilakukan dengan sistem “utang simpan” yaitu gabah dititipkan di lumbung dan dapat diambil kembali sewaktu-waktu sesuai kebutuhan, dengan potongan administrasi yang telah disepakati bersama.
Lumbung yang dibangun sejak 63 tahun silam itu tidak dibuka setiap saat. Adapun pengoperasiannya, dilakukan pada waktu-waktu tertentu, seperti pada musim tanam setelahnya dan musim paceklik melalui musyawarah anggota ketika ada kebutuhan mendesak.
"Pinjaman yang diterima petani wajib dikembalikan setelah panen, baik dalam bentuk gabah maupun uang," ujarnya.
Mijek menambahkan bahwa saat ini, kapasitas penyimpanan lumbung mencapai sekitar 10 hingga 15 ton gabah. Jumlah anggota terdaftar berkisar 80 hingga 100 orang yang berasal dari tiga dusun, yakni Banjarsari, Tegalsari, dan Kedung Galeh. Namun, anggota yang aktif secara rutin sekitar 60 orang.
“Yang lainnya biasanya baru aktif kalau lumbung dibuka,” imbuhnya.
Meski pola tanam saat ini memungkinkan petani panen hingga tiga kali dalam setahun, keberadaan lumbung paceklik tetap dinilai relevan. Bagi petani Desa setempat, lumbung paceklik bukan sekadar tempat penyimpanan gabah, melainkan sebuah bentuk solidaritas, transparansi, dan ketahanan ekonomi yang tumbuh dari semangat gotong royong warga.
Editor : Zainul Arifin