Momen Puluhan Biksu Tabur Bunga dan Doa Bersama di Makam Gus Dur di Jombang

Zainul Arifin
Para biksu doa bersama di makam Gus Dur di Tebuireng Jombang. (Foto: Mojokerto.iNews.id/Zainul Arifin).

JOMBANG, iNewsMojokerto.id - Puluhan Biksu atau Bhikkhu yang sedang melakukan perjalanan spiritual Thudong, singgah di Jombang dan ziarah makam Presiden Keempat RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di kompleks makam keluarga Pesantren Tebuireng.

Di makam tokoh bangsa itu, para Biksu dari berbagai daerah di Asia Tenggara tersebut menggelar doa bersama dan tabur bunga di  pusara Gus Durm Tampak bersamamya KH Riza Yusuf Hasyim atau Gus Riza, cucu KH Hasyim Asy'ari.

Biksu dari Sangha Theravada Indonesia, Bhante Thitayanno mengatakan Gus Dur merupakan sosok yang dihormati lintas agama karena pemikirannya menjunjung tinggi pluralisme.


Biksu tudhong ziarah makam Gus Dur dan doa bersama. Foto: Mojokerto.iNews.id/Zainul Arifin

Semangat persatuan dan toleransi yang diwariskan Gus Dur, kata dia, masih relevan hingga saat ini dan perlu terus dijaga bersama demi terciptanya kehidupan bangsa yang damai.

“Gus Dur dikenal sebagai Bapak Pluralisme karena beliau mampu merangkul berbagai perbedaan dan menjaga persatuan bangsa,” katanya.

Thitayanno menegaskan, perdamaian menjadi fondasi penting dalam pembangunan bangsa. Karena itu, nilai-nilai toleransi dan kebersamaan harus terus diperkuat di tengah masyarakat.

Diketahui, sebanyak 57 orang Biksu dari Thailand, Malaysia, Laos, dan Indonesia menjalani spiritual Thudong menuju Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, untuk mengikuti perayaan Waisak. Mereka menempuh ribuan kilometer berjalan kaki melintasi sejumlah daerah di Pulau Jawa.

Dalam perjalanan menuju Borobudur, para bhikkhu juga menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kondisi fisik hingga cuaca yang tidak menentu. Meski demikian, para pemuka agama Buddha ini tetap melanjutkan perjalanan penuh semangat dan disiplin.

Thitayanno mengungkapkan, kekuatan utama dalam menjalani perjalanan spiritual bukan hanya terletak pada fisik, tetapi juga pada keteguhan niat dan kemampuan menaklukkan diri sendiri.

“Penakluk sejati adalah mereka yang mampu mengalahkan dirinya sendiri. Tekad dan niat yang kuat membuat perjalanan sejauh apa pun terasa lebih dekat,” ungkapnya 

Dia, menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah membantu kelancaran perjalanan ritual jalan kaki mereka. Mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah melalui Kementerian Agama, TNI, Polri hingga organisasi kemasyarakatan.

Editor : Zainul Arifin

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network