Terendam Banjir, BPBD Jombang Ungkap Penyebab Dusun di Ketapang Kuning Jadi Lautan

Zainul Arifin
Banjir melanda wilayah utara Kecamatan Ngusikan termasuk Desa Ketapang Kuning yang disebut warga terjadi setiap tahun disebabkan pergeseran aliran air dari beberapa wilayah lain. (Foto: tangkapan layar Tiktok)

JOMBANG, iNewsMojokerto.id - Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jombang, Wiku Birawa Felipe Diaz, mengungkap penyebab Dusun Ketapang Rejo, Desa Ketapang Kuning, Kecamatan Ngusikan, terendam banjir hingga jadi lautan, sejak Senin (12/1/2026), sore.

Menurut Wiku, banjir melanda wilayah utara Kecamatan Ngusikan termasuk Desa Ketapang Kuning yang disebut warga terjadi setiap tahun disebabkan pergeseran aliran air dari beberapa wilayah lain.

“Wilayah Ketapang Kuning ini merupakan daerah akhir aliran air dari Marmoyo, Ploso, Kudu, dan sekitarnya. Jadi air itu bergeser dan berakhir di sana. Apalagi Ketapang Kuning berbatasan langsung dengan Mojokerto dan ada sistem pengaturan air di wilayah tersebut,” ungkap Wiku dihubungi wartawan, Selasa (13/1/2025).

Menurutnya, lantaran Ketapang Kuning menjadi titik akhir aliran air, maka durasi genangan cenderung lebih lama dibanding wilayah lain. 

“Proses akhir aliran air memang ada di Ketapang Kuning, jadi durasinya agak panjang. Tapi saat ini sudah berangsur surut,” katanya.

Dikatakan Wiku, kondisi banjir di permukiman saat ini mulai berangsur surut, meski genangan masih terjadi di area persawahan. “Rumah yang posisinya tinggi memang tidak kemasukan air, tapi yang rendah masih terdampak,” katanya.

Sebelumnya, sebuah rekaman video dari udara memperlihatkan banjir merendam Dusun Ketapang Rejo, Desa Ketapang Kuning, Kecamatan Ngusikan, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Peristiwa itu terjadi seusai hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut.

Dalam video yang diunggah pemilik akun TikTok Anggi APM pada Senin (12/1/2026), tampak lahan persawahan ditanam padi dan sejumlah rumah warga jadi lautan akibat terendam air. Banjir di dusun tersebut diduga berasal dari aliran beberapa wilayah lain, dan terjadi setiap tahun.

"Maaf ayah, untuk padi kali ini," tulis keterangan dalam video tersebut, dikutip, Selasa (13/1/2026).

Salah satu warga setempat, Ahmad mengatakan bahwa peristiwa itu merupakan banjir tahunan. Namun, kondisi tahun ini disebut dia lebih parah dibanding sebelumnya.

“Ini banjir tahunan, tapi kali ini sudah yang kedua. Yang pertama bulan November 2025, tapi tidak separah sekarang,” ujar Ahmad kepada wartawan, Selasa (13/1/2026).

Selain banjir merendam areal persawahan, banjir juga menyebabkan air masuk sejumlah rumah warga sejak Senin (12/1/2026) sore dan semakin tinggi pada malam hari, hingga selutut orang dewasa. Warga berharap pihak berwenang bisa memberikan solusi supaya warga dan petani tidak terus mengalami kerugian saat banjir melanda.

Editor : Zainul Arifin

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network