Mutun 2026 di Jombang: Gus Kikin Ingin Kajian Hadis Kembali Dekat Masyarakat
JOMBANG, iNewsMojokerto.id - Muktamar Turats Nabawi (Mutun) dan Annual Meeting ASILHA selama tiga hari pada 5-7 Oktober 2026,di pondok pesantren Tebuireng Jombang dengan berbagai agenda kajian, penguatan sanad keilmuan, serta pembahasan perkembangan studi hadis berbasis pesantren.
Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin mengatakan bahwa Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari memiliki semangat besar dalam menyebarkan ilmu hadis kepada masyarakat.
Ia menyebut pernah menemukan sejumlah majelis khataman kitab hadis yang digagas Hadratussyaikh di berbagai daerah, seperti Banyuwangi dan Ponorogo. Kegiatan itu disebut berlangsung setiap Selasa.
Gus Kikin berharap Ma’had Aly Hasyim Asy’ari dapat menghidupkan kembali tradisi tersebut dengan menghadirkan kajian hadis di tengah masyarakat. Menurut Gus Kikin, penguasaan ilmu hadis penting bagi seseorang yang akan menyampaikan ajaran agama kepada masyarakat.
“Beliau menyampaikan bahwa barangsiapa yang menguasai hadis maka akan kuat argumennya. Oleh karena itu, di dalam bermasyarakat yang paling cocok adalah siapa yang menguasai hadis, baru kemudian mengajarkan ilmu-ilmu yang lain,” ujar Gus Kikin dalam keterangannya, Rabu (7/10/2026).
Ketua umum PBNU tersebut juga berharap MUTUN dan kajian hadis tidak berhenti di lingkungan Pesantren Tebuireng, tetapi dapat berkembang ke pesantren dan masyarakat di berbagai daerah.
“Saya berharap kegiatan ini diperluas ke semua pondok pesantren, masyarakat, sehingga ke depannya umat Islam bisa tersambung, tidak hanya secara lahir tetapi batinnya juga tersambung,” katanya.
Sementara itu, Mudir Ma’had Aly Hasyim Asy’ari KH Ahmad Roziqi mengatakan, Pesantren Tebuireng memiliki tradisi untuk tidak mengajarkan suatu ilmu sebelum mendapatkan ijazah dari guru.
Ia mencontohkan pengalamannya bersama gurunya, KH Mutohharun Afif, ketika diminta mengajarkan kitab Al-Muwattha’. Saat itu, sang guru memilih tidak langsung mengajarkannya sebelum memperoleh ijazah yang bersambung hingga kepada penulis kitab tersebut.
Menurut Roziqi, tradisi tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan sanad keilmuan di pesantren. Ia berharap kerja sama antara Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, ASILHA, Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), dan perguruan tinggi lainnya semakin erat.
“Sinergi tersebut diharapkan dapat menjadi upaya bersama dalam mengembangkan dan memperkuat keilmuan syariat Islam,” kata Roziqi.
Mutun dan annual meeting Asilha 2026 digelar oleh Ma’had Aly Hasyim Asy’ari bekerja sama dengan Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA) dan menghadirkan tokoh keagamaan dan akademisi ilmu hadis dari dalam dan luar negeri yang berasal dari lima negara.
Editor: Zainul Arifin