Gus Yahya Fokus Dialog Antaragama Setelah Tak Lagi Jadi Ketua Umum PBNU
JOMBANG, iNewsMojokerto.id - KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya tidak lagi menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) setelah Muktamar ke 35 NU tahun 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada Minggu (30/8/2026).
Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin tersebut akan kembali fokus pada agenda dialog antaragama dan penguatan gerakan Islam Kemanusiaan (Humanitarian Islam) melalui sejumlah lembaga internasional.
Salah satunya Center for Shared Civilizational Values (CSCV) atau Pusat Nilai-Nilai Peradaban Bersama yang telah didirikan Gus Yahya. Yayasan itu menjadi sekretariat permanen yang mengurusi sekaligus mengelola pergerakan global forum Religion of Twenty (R20).
Forum itu menjadi salah satu instrumen penting dalam mempertemukan para pemimpin agama dunia untuk membangun nilai-nilai peradaban bersama. Selain CSCV, Gus Yahya juga merupakan pendiri Bayt ar-Rahmah (Bayt ar-Rahmah Li ad-Da’wa al-Islamiyah Rahmatan li al-’Alamin), yayasan keagamaan global berbasis di Amerika Serikat.
“Selain CSCV, saya juga merupakan pendiri dari yayasan keagamaan global berbasis di Amerika Serikat bernama Bayt ar-Rahmah,” kata Ketua umum PBNU periode 2021-2026 itu, Senin (31/8/2026).
Kedua lembaga nirlaba internasional itu selama ini bekerjasama dengan PBNU sebagai hubungan internasional untuk menggaungkan gerakan Humanitarian Islam sekaligus menyelenggarakan forum dialog para pemimpin agama dunia.
Menurut Gus Yahya, kerja-kerja tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan berbagai tradisi keagamaan dalam percakapan yang lebih luas mengenai persoalan kemanusiaan dan masa depan peradaban.
“Yayasan yang didirikan oleh saya, yang bertindak sebagai sekretariat permanen untuk mengurusi dan mengelola pergerakan global forum Religion of Twenty (R20), adalah Center for Shared Civilizational Values (CSCV) atau Pusat Nilai-Nilai Peradaban Bersama,” katanya.
Agenda internasional Gus Yahya berlanjut setelah berakhirnya masa kepemimpinannya di PBNU. Pada Desember mendatang, putra pasangan KH Muhammad Cholil Bisri dan Nyai Muhsinah itu akan bertolak ke Amerika Serikat.
“Desember bertolak ke Amerika untuk serangkaian kunjungan dan dialog dengan sejumlah tokoh antaragama,” katanya.
Langkah itu menunjukkan aktivitas Gus Yahya di tingkat internasional tidak berhenti setelah purna tugas dari struktur kepemimpinan PBNU. Ia memiliki ruang lebih luas untuk kembali mengembangkan agenda dialog antaragama, Humanitarian Islam, serta gagasan mengenai nilai-nilai peradaban bersama.
Melalui CSCV dan Bayt ar-Rahmah, Gus Yahya akan tetap berada dalam jejaring global yang mempertemukan pemimpin agama, intelektual, dan berbagai kelompok masyarakat untuk membangun percakapan lintas keyakinan.
Dengan demikian, berakhirnya masa kepemimpinan di PBNU dapat menjadi babak baru bagi Gus Yahya: dari pusat dinamika organisasi ke ruang dialog global, membawa agenda Islam Kemanusiaan sebagai jembatan untuk memperkuat perdamaian dan kerja sama antaragama.
Sementara, Yayasan Nusantara Al-Mubarokah (YANMU) menegaskan terus akan bekerjasama dengan Gus Yahya dalam setiap program khususnya kemaslahatan umat. YANMU adalah lembaga filantropi dan kemanusiaan yang aktif untuk mendukung program sosial, kesehatan, serta dakwah.
“Kita teruskan kerja sama dengan program-program Gus Yahya,” kata Wakil Ketua Umum YANMU, Syahdhana H Baswara.
Editor : Zainul Arifin