Buka Akses Kuliah Terjangkau, Rektor Ungkap Sejarah UIN Syekh Wasil Kediri
KEDIRI, iNewsMojokerto.id - Rekotr UIN Syekh Wasil Kediri, Prof Wahidul Anam ungkap sejarah awal berdirinya kampus yang kini membuka akses kuliah dengan biaya relatif terjangkau.
Dalam acara bincang Santai Program Pengembangan Kampus Bersama Media dan Ormas di aula kampus, Prof Wahidul Anam mengatakan bahwa UIN Syekh Wasil Kediri berdiri setelah bertransformasi dari IAIN menjadi UIN berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2025.
Kampus bermula dari cabang IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Sunan Ampel pada 1965. Kemudian berubah menjadi STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) Kediri pada 1997, dan kembali menjadi IAIN Kediri pada 2018. Hingga akhirnya bertransformasi menjadi UIN (Universitas Islam Negeri) Syekh Wasil Kediri pada Mei 2025.
“Usia UIN Syekh Wasil Kediri masih sangat muda, baru sekitar satu tahun. Karena itu kami membutuhkan masukan, dukungan, dan kolaborasi dari media, ormas dan masyarakat agar kampus ini bisa berkembang lebih baik,” ujar Wahidul Anam dalam pertemuan yang dihadiri ormas dan orprof wartawan tersebut.
Dikatakannya bahwa saat ini UIN Syekh Wasil Kediri memiliki 4 fakultas dengan 33 produ jenjang S1, S2, dan S3. Kampus mengusung konsep integrasi ilmu keislaman dan ilmu umum memperoleh akreditasi perguruan tinggi “Unggul” serta masuk tiga besar Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) paling informatif.
Para dosen dberasal dari berbagai perguruan tinggi dan negara seperti Kanada, Prancis, Maroko, Jerman, Taiwan, dan Australia. Berbagai fasilitas seperti gedung rektorat, sport center, masjid kampus, ma’had, hingga pengembangan kawasan pendidikan terpadu terus dilakukan.
Rektor menegaskan bahwa biaya pendidikan di UIN Syekh Wasil Kediri relatif terjangkau. UKT (uang kuliah tunggal) dimulai dari empat ratus ribu hingga kisaran empat jutaan rupiah, disesuaikan dengan kemampuan ekonomi mahasiswa.
“Kami ingin akses pendidikan tinggi bisa dijangkau masyarakat luas, khususnya wilayah Kediri dan sekitarnya,” katanya.
Editor : Zainul Arifin