get app
inews
Aa Text
Read Next : HPN 2026, Kapolres Jombang Beri Kejutan Tumpeng Jumbo untuk PWI

PWI Bekali Humas SMA, SMK dan SLB di Jombang Hadapi Oknum Mengaku Wartawan

Jum'at, 13 Februari 2026 | 19:19 WIB
header img
PWI Jombang memberikan bekal cara menghadapi oknum wartawan yang menyasar sekolah-sekolah di Jombang. (Foto: Mojokerto.iNews.id/Zainul Arifin).

JOMBANG, iNewsMojokerto.id - Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jombang Goes to School, Safari Edukasi Jurnalistik di SMKN 3 Jombang diikuti oleh humas dan pengelola media sosial (medsos) SMA, SMK dan SLB se Jombang, Jawa Timur, Jumat (13/2/2026). Pada pelatihan jurnalistik itu, para peserta mengaku mendapatkan ancaman hingga teror dari oknum mengatasnamakan wartawan di lingkungan sekolah mereka.

Ketua PWI Jombang, Muhammad Mufid, menegaskan acara itu dapat menjadi ruang edukasi untuk menjaga marwah profesi wartawan sekaligus melindungi lembaga pendidikan dari praktik-praktik menyimpang oleh oknum mengaku wartawan yang tujuannya bukan mencari berita tetapi meminta sesuatu.

"Praktik sangat merugikan dan memperburuk citra wartawan profesional. Karena itu, perlu sinergi bersama untuk menghadapi oknum tersebut sesuai aturan yang berlaku," ujarnya.

Melalui kegiatan ini, PWI Jombang berharap para humas sekolah tidak hanya memahami mekanisme hukum dalam menghadapi oknum yang merugikan, tetapi juga mampu membangun sistem informasi yang kuat, profesional dan akuntabel.

Pemateri pelatihan, Yusuf Wibisono menjelaskan detail mulai dari perbedaan wartawan dan media yang telah terverifikasi Dewan Pers; perbedaan medsos dan media mainstream, serta penyelesaian sengketa jurnalistik.

"Media terverifikasi Dewan Pers. Jika ada dugaan pelanggaran kode etik, maka dapat dilaporkan ke Dewan Pers. Namun jika tidak terverifikasi dan ada unsur pidana, bisa dilaporkan ke aparat penegak hukum dengan bukti-bukti unsur pidana yang kuat," kata Yusuf.

Sementara terkait produk media sosial, disebut Yusuf, kebanyakan atas nama pribadi atau akun perseorangan, sehingga bukan produk jurnalistik. Apabila merasa dirugikan oleh unggahan pribadi, bisa menggunakan mekanisme Undang-Undang ITE dan melapor ke APH.

Sebaliknya, produk media mainstream atau jurnalistik memiliki karakteristik yang jelas, seperti berbadan hukum, memiliki struktur redaksi, serta tunduk pada Undang-Undang Pers dan Kode Etik Jurnalistik.

“Kalau itu produk jurnalistik, maka penyelesaiannya lewat mekanisme hak jawab, hak koreksi, dan Dewan Pers. Jangan langsung dibawa ke ranah pidana kalau masih dalam sengketa pemberitaan,” ujarnya.

Sementara itu, Saiful Mualimin menekankan agar lembaga pendidikan mempunyai wadah informasi yang jelas dan resmi agar publik tidak bingung dan sekolah punya referensi yang bisa dirujuk sewaktu-waktu.

Secara tidak langsung, keberadaan media sekolah akan mempermudah humas dalam menyampaikan data dan klarifikasi ketika muncul isu tertentu. Media sekolah juga bisa menjadi arsip dokumentasi kegiatan yang tertata dan kredibel.

"Media internal yang aktif dan terpercaya dapat menjadi benteng awal menghadapi disinformasi maupun tekanan dari pihak luar," ujarnya.

Muhammad Syafi'i menambahkan, sekolah hari ini tidak cukup hanya bagus secara program, tapi juga harus mampu mengomunikasikan keunggulannya melalui media sosial dengan strategi yang tepat.

Secara tidak langsung, kata dia, konsistensi konten, pemahaman karakter platform, serta narasi yang positif dan informatif akan memperkuat citra sekolah di ruang digital. “Kalau branding sekolah kuat, transparan, dan informatif, maka ruang untuk intimidasi atau tekanan dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab akan semakin sempit,” ujarnya.

Kepala Subbagian TU Cabdindik Wilayah Jombang, Ulil Muamar, mengapresiasi inisiatif PWI Jombang dalam memberikan pendampingan kepada satuan pendidikan.

"Sekolah sangat perlu dibekali pemahaman seperti ini. Jangan sampai karena ketidaktahuan, kemudian merasa takut atau tertekan saat menghadapi oknum yang mengatasnamakan wartawan,” kata Ulil.

Secara tidak langsung, Ulil mendorong seluruh kepala sekolah dan humas agar selalu berkoordinasi dengan Cabdindik ketika menghadapi persoalan serupa. Menurutnya, pendampingan dan komunikasi yang baik akan membuat persoalan lebih mudah diselesaikan sesuai prosedur.

“Kami berharap setelah forum ini, teman-teman humas lebih percaya diri, lebih paham alur, dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan,” ucapnya.

Editor : Zainul Arifin

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut